Untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum sehari-hari, warga terpaksa patungan uang sebesar Rp5.000 per KK bagi yang memiliki rezeki.
Uang tersebut dikumpulkan untuk membeli beras dan bahan seadanya agar anak-anak serta balita tetap bisa makan.
“Kami patungan yang ada uang kasih, yang tidak ada ya makan bersama. Menunya tidak ada sama sekali, makan apa adanya asal anak-anak bisa makan dulu. Kalau beras habis, kami betul-betul terancam kelaparan,” tambahnya.
Kondisi keprihatinan serupa disampaikan oleh Ibu Hartati, salah satu warga pengungsi. Ia menuturkan bahwa selain krisis bahan pokok, ancaman kesehatan juga mulai membayangi para lansia dan anak-anak yang hanya tidur beralaskan tikar di atas tanah dan terpal.
“Setiap malam gempa masih terasa goyang, kami tidak berani pulang. Kami sangat membutuhkan uluran tangan pemerintah,” tegas Hartati.
Warga mendesak Pemda Sikka melalui instansi terkait seperti Dinas Sosial maupun BPBD untuk segera turun ke lapangan dan mendistribusikan bantuan tanggap darurat, terutama sembako (beras, minyak goreng, gula, kopi, dan mie instan) serta fasilitas perlengkapan tidur dan air bersih.
Hingga berita ini diturunkan, para pengungsi mandiri di Wolomarang telah mengadukan kondisi tersebut ke Satgas penanganan bencana gempa Kabupaten Sikka.
Para pengungsi masih terus bertahan di tenda darurat menunggu perhatian dan bantuan nyata dari Pemda Sikka.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
