“Jika praktik kekerasan terhadap mahasiswa terus dibiarkan, maka demokrasi hanya akan menjadi slogan tanpa makna,” lanjutnya dengan nada tegas.
Desak Kapolda NTT Turun Tangan dan Tindak Tegas Pelaku
Pernyataan keras ini diarahkan langsung kepada Kapolres Sikka selaku pemegang komando tertinggi yang bertanggung jawab atas pengamanan aksi di wilayah hukum Sikka.
Bonevantura mendesak agar Kapolres Sikka segera membuka ruang pemeriksaan secara transparan dan menindak tegas oknum anggota yang terlibat.
Tidak hanya di tingkat polres, GMNI NTT juga meminta Kapolda NTT dan Divisi Propam Polda NTT untuk tidak menutup mata terhadap pelanggaran serius ini.
“Kapolda NTT harus turun tangan. Jangan biarkan institusi kepolisian kehilangan legitimasi di mata rakyat karena membiarkan praktik represif terus terjadi terhadap mahasiswa,” desak Bonevantura.
Menyikapi perkembangan kasus ini, DPD GMNI NTT menegaskan komitmennya untuk mengawal ketat seluruh proses hukum dan advokasi bagi kader GMNI Sikka yang menjadi korban kekerasan.
Mereka memastikan bahwa intimidasi fisik maupun psikis tidak akan membuat gerakan mahasiswa mundur selangkah pun.
“Pemukulan terhadap kader di lapangan bukan lagi sekadar persoalan individu, melainkan ancaman nyata yang sangat serius terhadap kebebasan sipil dan masa depan ruang demokrasi di Nusa Tenggara Timur,” pungkasnya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
