NTT-Post.com, SIKKA – Pembangunan pagar tembok batako berukuran tinggi di bagian depan Markas Kepolisian Resor (Polres) Sikka memicu beragam tanggapan dari organisasi mahasiswa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Seblumnya pagar depan Polres Sikka hanya dibuat dari besi yang berjarak, sehingga memungkinkan masyarakat umum bisa melihat aktivitas di dalam halaman Polres Sikka.
Namun, dalam sebulan terakhir, pagar besi tersebut dibongkar dan digantikan dengan dinding tembok tinggi yang tingginya hampir menyamai bangunan utama polres.
Perubahan fisik ini memantik sorotan tajam dari dua organisasi Mahasiswa di Sikka, yakni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Maumere dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sikka.
PMKRI: Potensi Kesan Menjauh dari Rakyat
Presidium Gerakan Kemasyarakatan PMKRI Cabang Maumere, Mariady F. Bata, menyebut pembangunan pagar tembok tinggi di lingkungan Polres Sikka berpotensi menciptakan kesan bahwa institusi kepolisian sedang menjauh dari masyarakat yang seharusnya dilayani.
“Kami mempertanyakan urgensi pembangunan pagar tinggi tersebut. Di tengah kebutuhan membangun kepercayaan publik, langkah ini justru dapat memunculkan persepsi bahwa kantor polisi sedang membentengi diri dari rakyat. Institusi yang kuat tidak diukur dari tingginya tembok, tetapi dari tingginya kepercayaan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan bahwa simbol keterbukaan jauh lebih penting dibandingkan simbol pertahanan fisik apabila tujuan utama Polri adalah membangun kedekatan dengan masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
