NTT-Post.com, SIKKA — Memasuki hari ketiga pascagempa bumi M7,7 yang mengguncang Flores, sebanyak 1.551 jiwa (393 Kepala Keluarga) warga Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di lima titik pengungsian mandiri.
Hingga Senin (17/8/2026), para pengungsi dilaporkan belum menerima fasilitas tenda pengungsian dari pemerintah.
Ironisnya, di tengah keterbatasan fasilitas dan hanya mengandalkan terpal seadanya sebagai alas tidur, terdapat puluhan warga dari kelompok rentan.
Pendataan mandiri mencatat 27 ibu hamil, 75 ibu menyusui, 179 lansia, 90 balita, 603 anak-anak, serta 19 penyandang disabilitas berada di lokasi pengungsian.
Bahkan, seorang ibu hamil dilaporkan terpaksa menjalani perawatan medis dengan kondisi diinfus di tempat terbuka tanpa perlindungan tenda.
“Ada satu orang ibu hamil dalam keadaan diinfus karena sakit tanpa tenda pengungsian. Kasihan,” ujar salah seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut sebelumnya mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.
Guncangan kuat yang dirasakan hingga Kabupaten Sikka merusak sedikitnya 10 rumah warga di Dusun Namandoi dan Dusun Nangahale.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
