NTT-Post.com, SIKKA — Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Maumere menyoroti kondisi ironis yang dialami warga Desa Nitung Lea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka.
Di tengah keterisolasian akibat akses jalan yang terputus, warga korban bencana justru harus turun sendiri ke posko untuk mengambil bantuan logistik yang seharusnya menjadi hak mereka.
Warga Nitung Lea harus menempuh perjalanan menuju Posko di Desa Rokirole, dengan berjalan kaki selama sekitar dua jam melalui medan ekstrem dan berisiko tinggi.
Kondisi tersebut diperparah dengan gempa susulan yang masih terus terjadi, menambah ancaman keselamatan bagi warga yang harus melintasi longsor serta reruntuhan yang memutus jalur menuju wilayah mereka.
Ketua Presidium PMKRI Cabang Maumere, Rito Naga, menegaskan kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut.
Menurutnya, warga yang sudah kehilangan akses dan berada dalam situasi terisolir semestinya tidak lagi dibebani risiko tambahan hanya untuk memperoleh bantuan darurat.
Ia meminta pemerintah tidak sekadar mengukur keberhasilan penanganan bencana dari jumlah bantuan yang terkirim ke posko, melainkan dari apakah bantuan itu benar-benar sampai ke tangan warga yang membutuhkan.
“Pemerintah harus pastikan masyarakat terima bantuan bukan hanya menitipkan di posko lalu warga yang ada di wilayah terisolir harus berjuang sendiri untuk ambil bantuan. Ini keliru,” tegasnya.
Desak Wapres Gibran Turun ke Palue
PMKRI Cabang Maumere secara khusus meminta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk meninjau langsung kondisi masyarakat di Palue.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
