“Dua hari ini bisa dibilang rugi besar. Seharusnya saya sudah angkut penumpang atau barang dua kali trip, biaya operasional tidak tertutup,” tambah Huber dengan nada kecewa.
Keluhan serupa disampaikan puluhan sopir truk lain yang terjebak dalam kondisi ini. Mereka merasa dipersulit dan dikesampingkan, padahal sektor transportasi logistik adalah tulang punggung perekonomian daerah.
“Kami ini angkut sembako, bahan bangunan, bahkan hasil bumi. Kalau kami mogok karena tidak ada Solar, otomatis harga barang di pasar juga naik, semua jadi mahal,” kata Robert, seorang sopir truk pengangkut material konstruksi.
“Tiap hari harus antri berjam-jam, belum lagi kalau tiba giliran, ternyata Solarnya habis. Tenaga habis, uang makan habis, tapi muatan tidak jalan. Kami ini cari nafkah, bukan mau main-main. Pemerintah harus serius lihat masalah kuota ini,” tegasnya.
Sementara Piter, salah satu karyawan di SPBU Waioti, menyebut kelangkaan ini disebabkan oleh adanya pembatasan pengiriman (kuota) Solar oleh pihak Pertamina, yakni sebesar 88 kiloliter (KL) untuk satu SPBU di Sikka.
“Sudah dua hari ini BBM jenis Solar habis. Kami hanya menerima kiriman sesuai batasan dari Pertamina, 88 KL untuk satu SPBU. Ini membuat stok cepat terkuras,” ujar Piter.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pertamina terkait alasan pembatasan distribusi Solar di wilayah Sikka.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
