Indeks

Kisah Inspiratif! Perjalanan 35 Tahun Maria Modesta Menggantungkan Hidup dari Tumpukan Rongsokan

Reporter : Nivan Gomez Editor: Ade Riberu
FotoJet 3 1
Maria Modesta saat memisahkan botol bekas untuk ditimbang. Foto: Nivan / NTTPost.com

NTTPost.com, MAUMERE – Di balik hiruk-pikuk Kota Maumere, di mana pembangunan berpacu, tersembunyi sebuah kisah pilu yang menjadi potret nyata ketimpangan dan ketangguhan manusia.

Inilah kisah Maria Modesta, seorang wanita berusia 57 tahun yang telah menjadikan tumpukan sampah sebagai sandaran hidupnya selama lebih dari tiga dekade.

Sejak tahun 1990-an, ketika sebagian besar penduduk baru menikmati kemerdekaan ekonominya, Maria sudah memulai profesinya sebagai pemulung.

Tiga puluh lima tahun lamanya, pekerjaan yang bergelut dengan aroma tak sedap dan risiko kesehatan ini menjadi satu-satunya cara baginya untuk bertahan hidup dan menghidupi empat anggota keluarganya: tiga anak dan satu cucu.

Pukul lima dini hari, saat Maumere masih terlelap dalam dinginnya malam dan mimpi indah, hari Maria Modesta sudah dimulai.

Sosok renta ini, dengan karung besar yang siap digendong, telah menyusuri Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang ada beberapa titik dalam kota Maumere.

Ini adalah perlombaan melawan waktu. Ia harus tiba dan memilah, mengais rezeki sebelum truk-truk pengangkut sampah tiba dan menimbun harapannya.

Botol-botol bekas, gelas plastik air mineral, dan tumpukan kardus adalah harta karun baginya. Setiap serpihan plastik adalah jaminan satu kali makan. Setiap lembar kardus adalah secercah harapan untuk hari esok.

Dalam sehari, Maria biasanya mampu mengumpulkan satu hingga dua karung penuh barang bekas. Hasil jerih payahnya, yang penuh keringat dan debu, langsung dijual kepada pengepul.

“Uang itu langsung Ia gunakan untuk membeli kebutuhan makan hari itu. Untuk esok dan seterusnya, Maria harus kembali ke tumpukan sampah,” ujarnya saat ditemui di kediamannya.

Dari penjualan sehari penuh, ia hanya bisa mengantongi Rp30 ribu hingga Rp50 ribu: jumlah yang terasa sangat kecil untuk menopang lima nyawa. Uang itu langsung habis untuk kebutuhan makan hari itu.

Tak ada tabungan, tak ada kemewahan. Untuk hari esok, Maria harus kembali berhadapan dengan tumpukan sampah.

Ironi di Tanah Pemerintah

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung

Exit mobile version