Indeks

Prosesi Logu Senhor, Tradisi Warisan Portugis yang Abadi di Kampung Sikka Sejak Abad ke-16

Orestis Parera menceritakan bahwa sejarah tradisi Logu Senhor dimulai dari abad ke-15 sampai awal abad ke-16.

Reporter : Nivan Gomez Editor: Redaksi
IMG 20260330 204811
Prosesi Logu Senhor Paroki St. Ignatius Loyola Sikka. | (Foto: FB Xavier Karwayu)

NTT-Post.com, SIKKA – Hari Jumat Agung atau yang dalam bahasa Sikka Krowe disebut sebagai Sexta Vera, selalu menjadi momen sakral bagi umat Katolik di Keuskupan Maumere, khususnya di Kampung Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Salah satu pusat perhatian dari prosesi ini adalah tradisi Logu Senhor.

Tradisi ini merupakan tradisi tua yang dibawa oleh seorang pastor Portugis ke desa Sikka. Adapun perayaan Logu Senhor pada perayaan Hari Jumat Agung sudah dilakukan sejak tahun 1960.

Logu Senhor memiliki arti berjalan di bawah usungan usungan Salib Senhor sambil membawa lilin yang bernyala di tangan sembari membuat permohonan atau berdoa dalam hati.

Dilansir dari pemberitaan Kompas.com (23/04/2019), budayawan Desa Sikka, Orestis Parera menuturkan sejarah tradisi Logu Senhor.

Orestis Parera menceritakan bahwa sejarah tradisi Logu Senhor dimulai dari abad ke-15 sampai awal abad ke-16.

Saat itu wilayah Sikka dipimpin seorang bernama Moang Baga Ngang yang mempunyai 3 orang putra yaitu Moang Lesu, Moang Korung, dan Moang Keu.

Prosesi Logu Senhor Paroki St. Ignatius Loyola Sikka. | (Foto: FB Acack Lopez)

Dari ketiga putra Moang Baga Ngang, Moang Lesu lebih menonjol, dalam hal wawasan dan kehidupan masyarakat Sikka mulai dari kelahiran, kehidupan, dan penyakit.

Hal ini tersirat dalam syair bahasa Sikka yang berbunyi, “Niang ei Beta Mate Tanah ei Herong Potat Mate Due Rate Rua Potat Due Leda Telu. Blutuk Niu Nurak di Mate Blupur Odo Korak di Potat Teri di Mate Era di Potat”.

Syair tersebut mengungkap bahwa dunia ini tidak kekal abadi. Setiap ada kehidupan pasti ada kematian. Kematian tidak dibatasi umur. Yang bayi pun mati, yang tua renta pun mati. Kapan saja kematian itu pasti ada.

Moang Lesu kemudian memikirkan dan mencari kemungkinan di dunia ini ada tempat, kampung, dan pulau yang tidak ada penderitaan dan kematian.

Dengan pemikiran tersebut, Moang Lesu kemudian mengembara mencari tanah tersebut yang dalam bahasa Sikka disebut sebagai “Tanah Moret”.

Moang Lesu pergi keluar dari Sikka menuju wilayah utara tepatnya di Pelabuhan Waidoko Maumere yang menjadi tempat persinggahan atau berlabuhnya kapal-kapal dagang dari Bugis, Buton, Makassar, Bonerate, dan Portugis dari tanah Malaka.

Di pelabuhan Waidoko, Moang Lesu bertemu dengan seorang anak buah kapal dagang Portugis yang bernama Dzogo Worilla.

Kepada Dzogo Worila ia bertanya, apakah di tanah mereka tidak ada kematian, yang dijawab Worila bahwa di dunia ini manusia yang lahir, hidup dan pasti berakhir dengan kematian.

Namun untuk mendapat kepastian akan jawaban itu, Moang Lesu diajak untuk bersama-sama berlayar menuju tanah Malaka bersama Dzogo Worila.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung

Exit mobile version