NTTPost.com, MAUMERE – Dalam kebudayaan Sikka, setiap ritus adat adalah bahasa roh yang hidup. Salah satu ritus yang paling sarat makna adalah Toma Ai Tali.
Ritus ini menandai perjumpaan antara manusia dan leluhur, antara rasa syukur dan pengorbanan, antara dunia manusia dan dunia ilahi.
Ritual adat ini bukan sekadar upacara simbolik, melainkan tindakan rohani yang menyatukan masa lalu, kini, dan masa depan. Toma Ai Tali merupakan perjumpaan suci antara manusia dan para leluhur melalui simbol siri pinang (wua taa bako apur) dan doa adat.
Ami mai saing mora ina mula puan, Ama ungen unen.
(Kami datang mencari Ibu Penguasa Awal, Bapa Pemegang Kekuatan Alam).
Makna Siri Pinang: Pembuka Hati dan Persaudaraan
Sebelum darah babi dikorbankan, upacara diawali dengan siri pinang. Siri pinang adalah simbol tertua dalam budaya di Nian Sikka Tana Alok (tanah Sikka) yang menandai keterbukaan hati, kejujuran, dan penerimaan.
Dalam masyarakat Sikka, siri pinang adalah kata tanpa suara: ketika seseorang menyuguhkannya, ia sedang mengundang damai dan menyatukan niat.
Mai ea wua taa, mai musung oti bako, wuat naha mera wiwi bakot naha gahu hahang.
(Mari makan pinang, mari kunyah sirih, agar pinang memerah di bibir dan sirih menghangatkan tenggorokan).
Makna siri pinang melampaui sekadar adat sopan santun. Ia adalah pintu spiritual menuju kesatuan batin. Dengan mengunyah siri pinang bersama, seluruh peserta ritus menyatakan kesediaan untuk berdamai dengan sesama dan membuka diri terhadap kehadiran leluhur.
Secara filosofis, siri pinang melambangkan dialog dan kejujuran eksistensial. Seperti dikatakan Martin Buber, manusia hanya sungguh hidup ketika ia berkata: “Engkau” kepada sesamanya dan kepada Tuhan. Secara teologis, siri pinang mengingatkan pada komuni persaudaraan dalam Ekaristi, dimana roti dan anggur menyatukan umat dengan Kristus dan satu sama lain.
Darah Babi: Tanda Restu dan Pengorbanan
Dalam ritus Toma Ai Tali, darah babi menjadi simbol utama. Ia bukan sekadar persembahan, tetapi bahasa komunikasi antara dunia manusia dan dunia roh.
Ketika darah diteteskan ke tanah, ke dahi, atau ke dada seseorang, masyarakat percaya bahwa leluhur menerima pesan syukur dan permohonan dari anak-cucu mereka.
Mein da’a wali rahan tena au higi mitan here meran, wait wawa hama tana matat reta telan wulan, kapik lopa lilin jaur, behe tahi naha binon bano lalan naha woer talit eo dagir wain karang eo kaet alan.
(Biarkan darah ini menjadi jalan, agar yang hitam menjadi merah, agar mata yang menatap ke tanah dapat melihat matahari dan bulan di atas. Agar tak ada lagi yang jatuh dan tenggelam, sebaliknya, agar jalan kami diterangi dan hasil panen kami melimpah.)
Secara filosofis, darah adalah metafora kehidupan dan pengorbanan. Ia mengingatkan bahwa segala keberhasilan menuntut kesetiaan dan pengorbanan. Dalam teologi Kristen, darah memiliki makna yang sangat mendalam: “Inilah darah-Ku, darah Perjanjian Baru dan kekal” (Mat. 26:28).
Maka, dalam terang iman, darah babi dalam ritus adat bukanlah saingan darah Kristus, melainkan prafigurasi simbolik yang menyiapkan hati manusia untuk mengerti arti pengorbanan ilahi.
Seperti dikatakan dalam Ecclesia in Asia (No. 22): “Dalam kebudayaan-kebudayaan Asia terdapat benih Sabda (semina Verbi) yang memungkinkan umat beriman menemukan Kristus melalui nilai-nilai luhur tradisi mereka.”
Dengan demikian, ritus Toma Ai Tali dapat dipandang sebagai semina Verbi – benih Sabda – yang menumbuhkan kesadaran akan Allah yang hidup di dalam konteks budaya lokal.
Toma Ai Tali: Filsafat Relasi dan Inkulturasi
Secara sosial dan spiritual, Toma Ai Tali adalah ritus penyatuan. “Tali” dalam bahasa simbolik adat berarti hubungan hidup, sebagai pengikat antara manusia dan manusia, antara manusia dan alam, serta antara manusia dan Tuhan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
