“Kami kemarin berharap Bupati yang kami pilih ini bisa membantu kami. Eh, ternyata beliau juga tidak bisa dipegang janjinya,” tuturnya.
Sementara, seorang ibu pedagang ikan mentah yang tak ingin disebutkan namanya menilai rencana penutupan aktivitas pasar yang meliputi pasar PNPM yang resmi dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Sikka adalah keliru.
Menurutnya, yang seharusnya ditutup hanya pasar milik CV. Bengkunis, sedangkan aktivitas pasar di area pasar PNPM tidak boleh ditutup.
“Kalau tutup yang di CV. Bengkunis ya sah-sah saja. Namun, tidak dengan pasar PNPM, itu di prasasti ada tanda tangan Bupati Sikka. Masa pasar pemerintah juga mau ditutup,” teriaknya kesal.
Mereka juga menolak relokasi ke Pasar Alok karena khawatir harus bersaing dengan pedagang besar dan adanya potensi penurunan drastis pada pendapatan.
“Kami khawatir keuntungan akan turun drastis, bahkan mengakibatkan kami tidak bisa lagi beli beras dan kebutuhan pokok lainnya,” ujar pedagang.
Rasa kecewa ini diperkuat dengan kekhawatiran pedagang mengenai isu keamanan dan kenyamanan di lokasi relokasi, Pasar Alok, terutama jika mereka dipaksa berjualan hingga malam hari.
Mereka merasa Pasar Wuring lebih aman, sementara di Pasar Alok ada kekhawatiran serius tentang keamanan.
“Di Pasar Wuring kami merasa nyaman, dan tidak pernah ada kasus pencurian. Kalau di Pasar Alok, nyaris setiap hari ada kasus pencurian,” tutupnya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
