Indeks
Daerah  

Penertiban Pasar Alok Secara Brutal, Pedagang Mengamuk di DPRD Sikka: Aparat Tidak Punya Hati

"Datang-datang dari bawah, mereka bawa Pol PP, Lanal, Brimob, tentara, polisi lengkap! Mereka langsung rolling dan berteriak, 'Ibu-ibu siap mau masuk ke dalam!'. Saya bilang, bagaimana kami bisa siap-siap? Kami ini lagi jualan, lagi cari nafkah!" ungkap Siti sambil berteriak kesal.

Reporter : Nivan Gomez Editor: Redaksi
1781169934740
Penertiban Pasar Alok Secara Brutal, Pedagang Mengamuk di DPRD Sikka: Aparat Tidak Punya Hati. | (Foto: Sok Istimewa)

NTT-Post.com, SIKKA —Suasana di Kantor DPRD Kabupaten Sikka mendadak ricuh pada Kamis (11/6). Puluhan pedagang Pasar Alok Maumere yang didominasi oleh kaum ibu, mengamuk dan berteriak histeris.

Mereka mengamuk guna melayangkan protes terkait tindakan penertiban yang dinilai dilakukan secara tidak manusiawi oleh tim gabungan di pasar rakyat tersebut.

​Tim gabungan yang melakukan penertiban tersebut diketahui terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Damkar Kabupaten Sikka, unsur TNI-Polri, serta petugas pengelola Pasar Alok.

Kedatangan para pedagang ini bertepatan dengan kehadiran Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, yang sedang menghadiri Rapat Paripurna DPRD Sikka terkait Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2025.

Yasinta Siti, salah satu pedagang yang ditertibkan, membeberkan kronologi penertiban yang menghancurkan tempat usahanya dalam sekejap.

Yasinta Siti, salah satu pedagang yang ditertibkan, membeberkan kronologi penertiban yang menghancurkan tempat usahanya dalam sekejap. | (Foto: Nivan Gomez)

Menurutnya, alih-alih melakukan dialog atau pendekatan yang humanis, aparat datang dengan kekuatan penuh seolah-olah hendak menghadapi musuh besar.

“Datang-datang dari bawah, mereka bawa Pol PP, Lanal, Brimob, tentara, polisi lengkap! Mereka langsung rolling dan berteriak, ‘Ibu-ibu siap mau masuk ke dalam!’. Saya bilang, bagaimana kami bisa siap-siap? Kami ini lagi jualan, lagi cari nafkah!” ungkap Siti sambil berteriak kesal.

Siti juga mempertanyakan urgensi pengerahan aparat bersenjata lengkap ke sebuah pasar rakyat. Bagi para pedagang kecil, kehadiran aparat justru memberikan intimidasi psikologis yang luar biasa.

“Kenapa harus undang Tentara, Pol PP, Polisi? Apa gunanya mereka datang ke pasar? Mau perang dengan kami? Mau baku bunuh? Silakan,” cetusnya kesal.

Dampak dari penertiban paksa tersebut sangat memukul perekonomian para pedagang. Siti mengaku baru saja membelanjakan modal usahanya sebesar Rp8 juta pada pagi hari sebelum penggusuran terjadi. Kini, seluruh barang dagangannya dipastikan rusak dan tidak bisa dijual kembali.

“Semua hancur total, rata tanah habis. Barang-barang kami entah bagaimana mereka sepak, mereka tendang, mereka buang, lalu diangkut begitu saja ke dalam oto (mobil). Saya baru belanja tadi pagi habis kasar 8 juta rupiah. Sekarang barang-barang itu hancur semua kena terik matahari di sana,” ratapnya.

Siti juga mengecam keras tindakan para petugas lapangan yang dinilai tidak memiliki empati atau hati nurani terhadap nasib rakyat kecil.

Ia membandingkan kehidupan para pejabat dan pegawai pemerintahan yang nyaman dengan realita kehidupan pedagang yang harus memeras keringat setiap hari.

“Pegawai macam apa tidak punya hati nurani? Suruh angkat-angkat barang kami begitu saja. Kamu pegawai enak, terima uang, duduk di kursi pangku kaki, pegang HP dan Tas. Tapi kami ini susah! Nasi satu piring saja kami cari setengah mati!” serunya.

Pertanyakan Surat Perintah Bupati

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung

Exit mobile version