Indeks
Daerah  

Puluhan Tahun Krisis Air, Warga Dusun Rotat-Sikka Swadaya Alirkan Air Minum Bersih

Hingga saat ini, antusiasme warga Dusun Rotat sangat tinggi. Mereka sudah tiga hingga empat kali bergotong royong turun langsung ke lokasi mata air di hutan Nilo untuk membangun kaptering (bak penangkap mata air) sebelum nantinya pipa-pipa air ditarik langsung ke rumah-rumah.

Reporter : Nivan Gomez Editor: Redaksi
InShot 20260523 102914989
Swadaya masyarakat Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, untuk alirkan air minum bersih dari mata air milik Suitbertus Amandus di Nilo yang berjarak 3,5 KM. | (Foto: Nivan Gomez)

NTT-Post.com, SIKKA – Sebuah ironi membungkus kehidupan warga Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT.

Selama puluhan tahun, wilayah ini menjadi rumah bagi mata air Wair Puan, sumber air utama yang menghidupi warga Kota Maumere dan sebagian besar Kabupaten Sikka.

Namun tragisnya, warga Rotat sendiri justru tidak pernah menikmati setetes pun air dari fasilitas tersebut.

“Kami belum pernah menikmati air seperti orang Maumere. Padahal bak besar penampung Wair Puan itu berada di Ladogahar, terkhusus di Dusun Rotat,” ungkap Edita Dua Lodan, salah seorang warga setempat dengan nada kecewa.

Akibat krisis air bersih yang berkepanjangan, masyarakat setempat harus memutar otak dan merogoh kocek demi memenuhi kebutuhan dasar.

Untuk rumah tangga kecil (di bawah empat anggota keluarga), mereka wajib mengalokasikan anggaran minimal Rp200.000 per bulan untuk membeli satu tangki air. Sementara bagi keluarga besar, kebutuhan bisa membengkak hingga dua sampai empat tangki.

Swadaya masyarakat Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, untuk alirkan air minum bersih. | (Foto: Nivan Gomez)

“Kalau butuh dua tangki berarti kami harus mengeluarkan Rp400.000 per bulan. Air itu kan nomor satu. Kalau air memang tidak ada, berarti kami masyarakat Ladogahar ini belum merdeka,” tegas Edita.

Kekecewaan atas Proyek Miliaran yang Mandek

Penderitaan warga semakin diperparah oleh kegagalan proyek air minum bersih Ibu Kota Kecamatan (IKK) Nita pada tahun 2023 lalu.

Paket pekerjaan Bak penampung air bersih proyek IKK Nita yang terbengkalai. | (Foto: Nivan Gomez)

Proyek yang menelan anggaran negara hingga miliaran rupiah tersebut dinilai sia-sia karena mandek dan menghilang tanpa memberikan asas manfaat bagi masyarakat.

“Kami masyarakat merasa kecewa sekali. Airnya tidak dinikmati sama sekali. Kami hanya menonton pipa, pemasangan meteran, dan bak yang dikerjakan setengah-setengah, hanya ditempel saja begitu,” lanjut Edita.

Gotong Royong ke Hutan Demi Menjemput Air

Enggan terus-menerus menanti janji pemerintah yang tidak kunjung terealisasi, warga Dusun Rotat akhirnya memilih jalan swadaya.

Titik terang muncul berkat kedermawanan Suitbertus Amandus, seorang tokoh masyarakat setempat yang memiliki sembilan mata air di kebunnya.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung

Exit mobile version