Menurutnya Geowisata adalah kunci. Namun, itu tidak bisa berdiri sendiri, sektor pertanian dan peternakan harus disiapkan sejak awal agar mampu menopang kebutuhan saat pariwisata mulai ‘booming’.
“Dengan adanya permintaan pasar yang jelas dari sektor wisata, masyarakat akan terdorong secara alami untuk menanam dan beternak,” jelasnya.
Dr. Herry juga menekankan kunci keberhasilan ini adalah Multiplier Effect (efek pengganda).
Strategi yang ia tawarkan adalah menciptakan satu objek wisata unggulan di Timor yang mampu menarik arus kunjungan besar, yang kemudian akan “memaksa” sektor pertanian bergerak maju.
Tiga Pilar Pembangunan Versi Dr. Herry Zadrak Kotta
Pertama pariwisata sebagai lokomotif, dengan tujuan menarik wisatawan dan menciptakan permintaan (demand).
Kedua pertanian & peternakan sebagai gerbong untuk menyediakan kebutuhan pangan dan produk lokal (supply).
“Ketiga masyarakat sebagai aktor utama, hal ini kita dorong untuk berhenti dari pola subsisten dan mulai masuk ke pola ekonomi produktif berbasis pasar,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Dr. Herry menegaskan melalui geowisata, NTT tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga menjual pengetahuan dan pelestarian.
“Ketika pariwisata, pertanian, dan peternakan berjalan beriringan, masyarakat tidak lagi hanya bekerja untuk makan hari ini, tapi bekerja untuk menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan,” pungkasnya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
