Indeks
Daerah  

Wujudkan Kemandirian Ekonomi NTT, Dr. Herry Kotta Sebut Geowisata dan Pertanian Kunci Utama

"Masyarakat lokal tidak dipersiapkan secara matang di sektor penyangga seperti pertanian dan peternakan. Akibatnya, saat hotel dan restoran menjamur, bahan pangannya justru didatangkan dari luar daerah. Uang yang seharusnya berputar di tangan rakyat NTT, justru mengalir kembali ke luar," ungkapnya.

Reporter : Ramos Suni Editor: Tim Redaksi
IMG 20260123 WA0048
Kegiatan pelucuran dan diskusi buku Eksotika Geowisata Kabupaten Sejuta Lopo (TTU) di aula kantor bupati TTU. | (Foto: Ramos Suni)

NTT-Post.com, TTU – Nusa Tenggara Timur (NTT) kini berada di persimpangan jalan menuju transformasi ekonomi. Pakar pembangunan, Dr. Herry Zadrak Kotta, mengungkapkan sebuah visi besar tentang masa depan Bumi Flobamora yang bertumpu pada sinergi dua sektor raksasa, Pariwisata serta Pertanian dan Peternakan.

Dalam kegiatan pelucuran dan diskusi buku Eksotika Geowisata Kabupaten Sejuta Lopo (TTU) di aula kantor Bupati TTU, Dr. Herry menegaskan NTT tidak boleh lagi hanya mengandalkan pola lama.

Ia menyoroti tantangan nyata di mana masyarakat NTT saat ini masih terjebak dalam tatanan ekonomi subsisten.

Dr. Herry memberikan refleksi mengenai fenomena yang terjadi di Manggarai Barat. Pesatnya pertumbuhan pariwisata kelas dunia di sana ternyata menyisakan celah besar yakni Capital Flight (pelarian modal).

“Masyarakat lokal tidak dipersiapkan secara matang di sektor penyangga seperti pertanian dan peternakan. Akibatnya, saat hotel dan restoran menjamur, bahan pangannya justru didatangkan dari luar daerah. Uang yang seharusnya berputar di tangan rakyat NTT, justru mengalir kembali ke luar,” ungkapnya.

Baginya, ini adalah pelajaran krusial bagi wilayah Timor, khususnya Timor Tengah Utara (TTU). Jika Flores punya komodo dan wisata baharinya, maka Timor harus berani melahirkan identitas wisatanya sendiri.

Geowisata Identitas Baru dan Solusi Berkelanjutan

Sebagai jalan keluar strategis, Dr. Herry menawarkan konsep Geowisata sebagai prime mover atau penggerak utama pembangunan.

Dr. Herry Zadrak Kotta penulis buku Eksotika Geowisata Kabupaten Sejuta Lopo (TTU). | (Foto: Ramos Suni)

Geowisata dinilai bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan karena mencakup tiga aspek sekaligus yakni pertama keunggulan ekonomi untuk menciptakan pasar baru yang masif.

“Kedua edukasi untuk mengangkat nilai sejarah dan geologi lokal dan ketiga konservasi untuk menjamin alam tetap terjaga untuk generasi mendatang,” jelasnya.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung

Exit mobile version