Selama pelatihan, para peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik.
Albert menyebut, materi yang diberikan meliputi Pengenalan bahan pewarna alami, teknik pengolahan warna, proses pencelupan kain/benang, tips dan cara menjaga kualitas hasil pewarnaan agar tahan lama dan tidak mudah pudar.
“Melalui pendekatan praktik langsung ini, para pengrajin diharapkan dapat memahami setiap tahapan proses dengan lebih matang, sehingga mampu menghasilkan produk tenun yang lebih kreatif, inovatif, dan bernilai jual tinggi,” jelasnya.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya nyata melestarikan budaya tenun tradisional sekaligus menyokong ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
“Kami berharap para pelaku UMKM di Kelurahan Hewuli dapat terus berkembang, meningkatkan kualitas produknya, serta mampu bersaing di pasar lokal maupun nasional melalui inovasi produk tenun berbasis kearifan lokal,” ujar Albert.
Ketua Kelompok Tenun Pewarna Alam Uli Muri, Fatima Pali, mengungkapkan rasa bahagia dan syukur yang atas terselenggaranya pelatihan yang berjalan dengan lancar ini.
“Kami sangat bersyukur kerena mendapatkan pelatihan ilmu dan pengetahuan baru mengenai pewarna alam, tetapi juga mendapatkan dukungan (support) berupa alat tenun,” ungkap Fatima.
Fatima juga menyampaikan terima kasih kepada Rumah BUMN Ende yang telah bersedia mendampingi dan memfasilitasi kelompoknya, serta kepada pemerintah setempat.
“Kami sangat berharap pihak PLN melalui Rumah BUMN bisa terus mendampingi kami, Kelompok Tenun Uli Muri, ke depannya,” pungkasnya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
