Indeks

Sempat Nyaris Ditinggalkan, Kopi Arabika Watu Merak Kini Bangkit Lewat Perhutanan Sosial dan Pendampingan Kolektif

Setelah puluhan tahun dibudidayakan di ketinggian yang keliru, kopi Arabika di Desa Watu Merak, Kabupaten Sikka, mulai menjanjikan usai ditanam di bawah tegakan hutan melalui skema Perhutanan Sosial.

Reporter : Mia Margaretha Holo Editor: Ade Riberu
FotoJet 11
Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) Kebar Merak, Desa Watu Merak, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka berfoto bersama usai melakukan penanaman 4.975 anakan kopi Arabika di wilayah Hutan Kemasyarakatan (HKM) Watu Merak. (Foto: Mia / NTT-Post.com)

“Keputusan ini tidak hanya soal pertimbangan ekonomi, tetapi juga ekologis. Jenis kopi seperti Arabika membutuhkan ketinggian dan naungan. Jadi memang sangat cocok ditanam di bawah tegakan hutan tanpa menebang pohon besar,” ujar Sesko Rakeng, Pendamping Perhutanan Sosial KSP Kebar Merak.

Sesko bilang, Desa Watu Merak memiliki potensi alam yang luar biasa. Kesuburan tanah, pohon, tegakan hutan, kondisi suhu, kelembaban, dan ketinggian yang mendukung jenis tanaman tertentu, sehingga sebagai dukungan terhadap masyarakat untuk program jangka panjang 2023-2027, ada intervensi anggaran yang sejauh ini telah disalurkan kepada para petani dalam kelompok binaan mereka.

“Untuk skema anggaran sebanyak Rp300 juta untuk kopi Arabika hasil kerja sama pemerintah Jerman dan Indonesia. Itu pun sebenarnya penyulaman saja, karena pada dasarnya sudah dibudidayakan oleh masyarakat setempat. Kita hanya perlu mendorong bagaimana menanam, merawat kopi Arabika hingga akhirnya diproduksi,” kata Sesko.

Ia menerangkan, untuk KSP Kebar Merak menerima bantuan 4.975 anakan kopi Arabika, pengadaan rumah produksi kopi serta alat atau fasilitas pendukung. Ia berharap beberapa tahun ke depan, kelompok ini sudah menghasilkan kopi Arabika berkualitas yang punya daya saing.

“Hari ini kami mulai menanam anakan kopi di lokasi HKM. Harapannya agar mendapatkan hasil maksimal sehingga ekonomi masyarakat dapat berkembang secara baik,” harapnya.

Sebanyak 4.975 anakan kopi tersebut, kata Sesko, ditanam di lahan seluas 3,1 hektar, tersebar di lereng bukit dengan ketinggian 1.000 mdpl, dengan memanfaatkan kanopi hutan untuk menjaga kelembaban tanah dan kestabilan suhu.

“Dulu petani harus tebang pohon untuk menanam tanaman komoditi. Sekarang kita berbagi pengetahuan bahwa hutan tidak lagi dipandang sebagai penghalang produksi, melainkan sebagai mitra hidup tanaman kopi. Jadi kalau hutannya rusak, kopinya juga mati,” terang Sesko.

Keseimbangan Ekonomi dan Ekologi Hutan

Aktivis dan Anggota DPRD Fraksi Garda Solidaritas dari Kecamatan Doreng, Yos De Peskim yang hadir dalam kegiatan penanaman 4.975 anakan kopi Arabika di Desa Watu Merak memberikan imbauan bagi para petani untuk meninjau kembali peran hutan.

Yos De Peskim, aktivis sekaligus Anggota DPRD Sikka ikut dalam penanaman 4.975 anakan kopi Arabika di lokasi HKM Desa Watumerak. (Foto: Mia / NTT-Post.com)

Ia menegaskan pentingnya menyeimbangkan fungsi hutan, tidak hanya dilihat dari faktor ekonomi saja tetapi juga dari sisi ekologi.

“Kalau omong soal ekonomi, kita tahu hutan sebagai peningkat taraf hidup, kita bekerja membuka kebun untuk menanam tanaman penunjang hidup. Namun yang lebih penting adalah soal ekologi, saya ingin petani memahami secara utuh hutan sebagai sumber utama kehidupan masyarakat,” ujar Yos De Peskim.

Ia menerangkan, sumber hidup itu berkaitan erat dengan lingkungan, sumber mata air, dan pangan yang ada di dalam hutan tersebut.

“Nenek moyang kita dulu menjadikan hutan sebagai sumber pangan dan tempat berburu. Semua ada di dalam hutan itu sehingga hutan dijaga sangat baik. Kita melihat banyak hutan lestari karena mereka tidak menebang pohon sembarang,” jelas Yos De Peskim.

Ia mengatakan, peran hutan sebagai pelindung bagi keanekaragaman hayati yang memberikan keuntungan timbal-balik penting bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Yos menekankan, “konservasi tidak boleh hanya berfokus pada tanaman komoditas namun bisa mengembalikan hutan sebagaimana mestinya.”

Kata dia, selain manusia yang bergantung pada hutan, makhluk hidup lainnya juga menjadikan hutan itu sebagai rumah. Masyarakat perlu mengidentifikasi jenis tanaman yang  varietasnya asli sudah mulai hilang.

“Sesama makhluk hidup itu sebenarnya memberikan manfaat timbal-balik, hanya saja kadang kita tidak peka terhadap hal itu. Tanpa kita sadari, kerusakan hutan menjadi penyebab mengapa burung-burung yang dulu seharusnya ada di sini sudah tidak terlihat lagi,” ungkapnya.

Yos De Peskim berharap kelompok tani Kebar Merak bisa menjadi media untuk bertukar pengetahuan pembelajaran termasuk praktik-praktik demokrasi. Ia juga mendukung upaya petani seperti tetap menjaga kelestarian hutan untuk keberlanjutan ekonomi.

“Saya mengapresiasi langkah progresif KPS Kebar Merak, sekaligus perhatian dari pemerintah desa maupun pendampingan dari Perhutanan Sosial telah membudidayakan Arabika sehingga memiliki harapan untuk keberlanjutan ekonomi. Kedepannya, semoga dari Kebar Merak punya satu buah tangan yang benar-benar berasal dari karya dan kerja kolektif masyarakat,” tutup Yos.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung

Exit mobile version