Indeks
Opini  

OPINI: KBG dan Kepedulian Pendidikan Anak

FotoJet
Urbanus Xaverius Landa. (Foto: Dok. Pribadi Urbanus)

Sebagai orangtua, kadang dengan memberi HP ke anak-anak, kita menjadi tenang karena tidak diganggu. Kita juga main HP yang sama. Apalagi model orangtua masa bodoh, ini masalah besar bagi masa depan anak. Mereka menjadi apa saja yang mereka tonton. Peran orangtua sebagai guru sudah diambil alih oleh HP dan AI. Tanya nasihat apa saja, silakan tanya HP, bukan orangtua. Orangtua melahirkan anak ke dunia, sedangkan HP melahirkan pengetahuan bagi anak.

Ketiga, pendidikan itu urusan bersama, bukan semata tanggung jawab keluarga inti yakni orangtua. Entah bagaimana, di Maumere dari dulu, jika ada orang yang mau menikah, membentuk rumah tangga baru sebagai suami isteri, kita sebagai keluarga dekat dan marga, juga sebagai teman kerja dan sahabat mau gotong-royong kumpul uang, emas, kuda, sapi, babi, gading gajah, sarung, kain lipa, kelapa, pisang, dan lain sebagainya sebagai hantaran belis agar rumah tangga baru resmi terbentuk. Tapi, untuk urusan pendidikan, kita enggan, kita anggap itu urusan masing-masing.

Sering kali, jika ada anggota keluarga yang mau minta bantuan dana pendidikan untuk anak-anak mereka, ada omongan: “Hah, kau yang punya anak, urus to.” Ada juga yang bilang: “Makanya kalau tidak bisa urus sekolah anak jangan buat anak.”

Kalimat di atas terlihat dengan jelas, kita menganggap pendidikan anak itu urusan suami isteri semata. Bukan urusan bersama. Mengapa kita lebih gampang kerja sama untuk bayar belis daripada kerja sama untuk pendidikan anak, malahan terbalik, ada orang senang jika melihat anak tetangga atau anak saudara sendiri gagal dalam pendidikannya?

Kita juga tidak terlepas, malas mendengar kisah keberhasilan pendidikan anak-anak orang lain, maunya, punya kita saja yang sukses, berhasil dan berjaya, orang lain tak apa gagal. Bandingkan, dalam perkawinan, orang yang mau menikah itu masa depannya sudah jelas, mereka itu laki dan perempuan dewasa. Mereka punya pekerjaan, mereka sudah bisa mengurus diri sendiri, makanya sudah bisa dan mau ambil tanggung jawab bentuk rumah tangga sendiri tapi mengapa mereka yang diberi bantuan keuangan untuk bayar belis dan pesta nikah sedangkan anak-anak yang mau sekolah kita tidak mau bantu? Di sinilah pendidikan itu menjadi timpang, orang mampu, anak-anak dari keluarga-keluarga kaya akan terus sekolah ke jenjang yang lebih tinggi semahal apapun tanpa kendala biaya sedangkan orang-orang miskin, kandas.

KBG    

Kita hidup dalam KBG sekian lama, terlibat dalam berbagai kegiatan pastoral. Ada kedukaan kita gotong-royong membantu keluarga duka. Ada pesta sambut baru di tetangga, kita hadir di acara tama benu, terima tangan, sambil tempel amplop tebal isi uang merah, itu bisa. Ada misa dan Doa Rosario kita aktif dari rumah ke rumah, nah sekarang, dengan semangat yang sama, semoga kita dapat terlibat membantu meringankan biaya pendidikan anak-anak dalam KBG seperti praktik hidup KGB Maria Rosa Mystica di awal.

Setelah surat gembala uskup dibacakan di gereja pada awal bulan Mei yang lalu, umat di KBG melanjutkan dengan katekese pendidikan. Harapannya, setelah katekese ada aksi nyata peduli pendidikan lewat arisan pendidikan. Ada hal yang perlu diperhatikan, khususnya nanti arisan macet. Sering terjadi, ada orang hanya mau terima uang arisan tapi enggan kembalikan, pura-pura lupa ingatan. Ini perlu perhatian khusus dan dicari jalan keluarnya.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung

Exit mobile version