Tak berhenti disitu, Warga Rotat juga bersepakat untuk membentuk Panitia Air Minum (PAM) Dusun dan menetapkan iuran bulanan sebesar Rp 10.000 per rumah tangga.
Sistem ini memastikan keberlanjutan operasional dan pemeliharaan fasilitas air yang kini melayani seluruh masyarakat Rotat, dari RT:01 hingga RT:07, jelasnya.
“Setelah air keluar kami langsung bentuk Panitia Air Minum (PAM) agar keberlangsungan air ini bisa terjaga dan kami tidak kesulitan lagi untuk kebutuhan dasar air minum bersih,” tuturnya.
Lanjut Editha, pengeluaran rutin untuk membeli air tangki dan galon kini berkurang drastis, meringankan beban ekonomi harian masyarakat.
“Perasaan kami sangat senang. Sekarang pengeluaran untuk beli air tangki dan galon sudah berkurang. Dulu satu tengki dihargai Rp150 ribu hingga Rp250 ribu, kini hanya Rp10 ribu kami sudah menikmati air bersih,” tuturnya.
Sementara Irvin Jano mengatakan, antara swadaya yang berhasil dan proyek besar yang mangkrak, ia menegaskan pentingnya inisiatif masyarakat dan semangat gotong royong.
“Saya percaya pada kekuatan swadaya masyarakat. Bantuan dana pribadi ini hanyalah pendorong agar warga bisa memulai langkah,” tutur Irvin
Irvin juga berharap agar fasilitas air bersih yang telah dinikmati ini dapat dijaga dan dirawat dengan baik.
”Saya berpesan agar masyarakat bisa menjaga dan merawat air yang sementara dinikmati. Manfaatkan PAM yang sudah dibentuk dan percayakan kepada mereka untuk mengelola,” tutupnya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
