Indeks

Menelusuri Jejak 125 Tahun Gereja Tua Sikka: Warisan Bangsa Portugis dan Kado “PROKASISIKA”

Di balik dindingnya yang menyimpan lukisan motif tenun ikat, tersimpan narasi sejarah yang membentang lebih dari empat abad, jauh sebelum batu pertama diletakkan pada tahun 1896.

Reporter : Nivan Gomez Editor: Redaksi
IMG 20260208 074937
Tampak dalam Gereja St. Ignatius Loyola Sikka. (Foto: Acack Lopez/NTT-Post)

NTT-Post.com, SIKKA – Berdiri megah di pesisir selatan, Kampung Sikka, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Gereja St. Ignatius Loyola Sikka bukan sekadar bangunan kayu tua berasitektur Eropa.

Di balik dindingnya yang menyimpan lukisan motif tenun ikat, tersimpan narasi sejarah yang membentang lebih dari empat abad, jauh sebelum batu pertama diletakkan pada tahun 1896.

Sejarah iman di Sikka ternyata jauh lebih tua dari usia gerejanya. Pastor Paroki Sikka, RD. Hendrik Nong, mengungkapkan Katolik pertama kali menyapa tanah Sikka pada tahun 1607.

Momen ini terjadi saat Raja Sikka Don Alesu pulang dari Malaka. Ia tidak datang sendirian, melainkan membawa serta seorang guru agama (katekist) asal Portugis bernama Rosario da Gama.

“Sejak saat itulah iman Katolik mulai disebarkan, ditandai dengan kehadiran Salib Senhor yang hingga kini menjadi bagian penting dari kehidupan rohani masyarakat Sikka,” jelas RD. Hendrik.

Lahir di Malam Natal 1899

Rd. Hendrikus Nong mengatakan, setelah paroki resmi terbentuk pada tahun 1884, barulah rencana pembangunan gedung gereja permanen direalisasikan.

Proses konstruksi dimulai pada tahun 1896 dan memakan waktu tiga tahun hingga selesai pada 1899.

“Pastoran parokinya terbentuk lebih dahulu dari gerejanya. Pastorannya dibentuk tahun 1884 dan gereja resmi selesai dibangun di tahun 1899,” jelas Pastor Paroki.

Tampak dalam Gereja St. Ignatius Loyola Sikka. (Foto: Acack Lopez/NTT-Post)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung

Exit mobile version