Indeks

Sinergi Gereja dan Pemerintah di HUT 125 Gereja Sikka, Luncurkan PRO KASIH SIKKA

Program ini dinilai sejalan dengan semangat pembaruan iman dan kepedulian sosial yang menjadi nafas perjalanan Gereja selama lebih dari satu abad di tanah Sikka.

Reporter : Nivan Gomez Editor: Redaksi
IMG 20260208 201817
Foto Bersama, Uskup Maumere, Pastor Paroki Sikka, Ketua DPRD Kabupaten Sikka dan Sekda Sikka saat peluncuran Pro Kasih Sikka Gereja St. Ignatius Loyola Sikka. | (Foto: Nivan Gomez)

NTT-Post.com, SIKKA – Perayaan syukur 125 tahun Gereja Santo Ignatius Loyola Sikka pada Minggu (08/02/2026) menjadi momentum bersejarah bagi umat Katolik paroki Sikka dan masyarakat.

Tidak hanya merayakan usia bangunan, acara ini menjadi panggung sinergi antara pimpinan Gereja, legislatif, dan eksekutif dalam meluncurkan visi masa depan bertajuk PRO KASIH SIKKA (Program Kasih Sikka).

Pastor Paroki Sikka, RD. Hendrikus Nong yang juga bersama umat paroki sikka yang mencanangkan Pro Kasih Sikka menjelaskan lima pilar utama dari program itu.

​Kata Pro diartikan sebagai Program sedangkan Kasih di pilah menjadi lima pilar.

Pertama, huruf K (Kultur/Budaya), yang dimaksud untuk menggali dan menghidupkan kembali kekayaan budaya lokal Sikka, seperti tenun ikat dan tradisi lisan, agar tidak hanya menjadi pajangan sejarah tetapi menjadi identitas hidup yang mampu memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat.

​Kedua huruf A (Alam), yang diartikan penataan dan pelestarian ekosistem alam Sikka. Fokus utamanya adalah menjaga keindahan pantai dan perbukitan agar tetap asri.

“Prinsip dari pikar kedua ini adalah, alam yang dirawat akan merawat kehidupan.” jelasnya.

​Ketiga huruf S (Sosial) yang diartikan untuk menata kembali tatanan sosial masyarakat berdasarkan etika, sopan santun, dan tata krama lokal.

“Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif bagi wisatawan serta memperkuat persaudaraan antar umat,” ujarnya.

Keempat huruf ​I (Iman) diartikan untuk memperkuat spiritualitas umat agar tidak berhenti pada ritual formal di altar, tetapi berbuah pada tindakan konkret.

“Tujuannya adalah solidaritas terhadap sesama yang lemah dan penguatan peran kader pastoral (terutama OMK) sebagai agen pewartaan,” kata Pastor Paroki.

​Dan kelima huruf H (Histori/Sejarah) diartikan untuk memanfaatkan sejarah panjang Sikka (sejak kedatangan Portugis 1607) sebagai sumber inspirasi.

“Sejarah digali kembali bukan untuk nostalgia, melainkan untuk membentuk karakter masyarakat yang lebih religius dan humanis,” tutupnya.

Sementara Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, menyampaikan dukungan yang kuat terhadap inisiatif program Pro Kasih Sikka (Prokasi).

Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, saat memberikan Khotbah. | (Foto: Live YT Komsos Keuskupan Maumere)

Program ini dinilai sejalan dengan semangat pembaruan iman dan kepedulian sosial yang menjadi nafas perjalanan Gereja selama lebih dari satu abad di tanah Sikka.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung

Exit mobile version