Indeks
Daerah  

Kasus Perusak Salon di Sikka, Kuasa Hukum Elisabeth Erin Sebut Laporan Balik Ansi Moa Hanya Upaya Hambat Proses Hukum

"Saya menduga laporan balik ini hanya upaya untuk menghambat laporan yang diajukan klien saya. Ini seolah menjadi praktik untuk menciptakan posisi tawar agar terjadi perdamaian, padahal faktanya klien saya adalah korban," ujar Rio Lameng saat memberikan keterangan kepada media, Senin (12/1/2026) malam.

Reporter : Redaksi Editor: Tim Redaksi
IMG 20260112 213720
Elisabeth Erin, didampingi Kuasa Hukum, Rio Lameng, S.H. | (Foto: Nivan)

Tuduhan Laporan Palsu

Menanggapi laporan penganiayaan yang dituduhkan kepada Erin, Rio menyatakan pihaknya siap mengikuti prosedur hukum. Namun, ia memberikan peringatan keras jika tuduhan tersebut tidak terbukti.

“Kalau Erin tidak terbukti bersalah, maka itu adalah laporan palsu. Kami akan lapor balik mereka atas laporan palsu. Berdasarkan pengakuan klien saya, dia tidak membalas pukulan karena ditahan oleh kekasihnya. Dugaan luka yang divisum oleh pihak lawan kemungkinan terjadi karena terlapor terjatuh atau terantuk sepeda motor saat mencoba melarikan diri dari lokasi karena ketakutan,” tambahnya.

Desak Kepolisian Percepat Proses

Terkait perkembangan kasus pengeroyokan dan pengerusakan yang dilaporkan Erin sejak 31 Desember lalu, Rio menilai prosesnya berjalan agak lambat. Namun, ia memaklumi adanya proses rotasi kepemimpinan Kasat Reskrim di Polres Sikka.

“Lusa saya akan menghadap Kasat Reskrim yang baru untuk mempertanyakan perkembangan kasus ini. Kami sudah menyiapkan empat saksi kunci, termasuk pegawai salon dan pelanggan yang berada di lokasi saat kejadian,” jelas Rio.

Pihak korban menegaskan tidak akan mundur dan meminta proses hukum tetap berlanjut hingga ke meja hijau.

Sementara Elisabeth Erin menekankan bahwa kerugian yang ia alami bukan sekadar kerusakan fisik barang, melainkan rusaknya kepercayaan (trust) pelanggan terhadap usahanya.

“Ini soal harga diri dan kepercayaan pelanggan. Kejadian itu terjadi di depan pelanggan yang sedang kami layani, itu kerugian yang jauh lebih besar dari sekadar harga cat tembok atau kursi,” tutupnya.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung

Exit mobile version