Baginya, keberlanjutan Pintu Air sangat bergantung pada bagaimana para pengelola di KCP, Cabang, maupun Titik Kumpul memaknai pekerjaan mereka.
Gabriel mengajak seluruh rekan manajemen untuk memiliki filosofi “Kebun”. Menurutnya, kantor atau lembaga ini bukan sekadar tempat mencari makan, melainkan kebun yang harus diolah dengan penuh rasa memiliki.
“Jangan jadikan tempat ini hanya sebagai tempat cari makan, tapi jadikan betul-betul kebun kita. Kita sudah mengolah kebun ini puluhan tahun, dan dengan kemampuan berinovasi serta berkolaborasi dengan situasi zaman, kita akan terus menghasilkan,” ujar Gabriel.
Ia juga menekankan bahwa di era yang semakin canggih, manajemen tidak boleh lagi menggunakan cara-cara lama yang statis.
“Pengelolaan lembaga harus lebih bonafide dan terpercaya melalui adaptasi teknologi dan penguatan spiritualitas melalui doa pagi sebagai momen refleksi diri,” ujarnya.
Peringatan HUT ke-31 ini menjadi momentum bagi KSP Kopdit Pintu Air untuk mempererat solidaritas.
Dengan perpaduan antara kepemimpinan Yakobus Jano yang visioner dalam menjaga marwah koperasi dan eksekusi manajemen yang inovatif dari Gabriel Pito Sorowutun, Kopdit Pintu Air optimis tetap menjadi pilar ekonomi kerakyatan yang kokoh.
Kedua tokoh ini sepakat bahwa kekuatan utama Pintu Air terletak pada tiga pilar: Andalan pada Tuhan, penghormatan terhadap alam/leluhur, dan integritas manusianya.
Dengan pondasi tersebut, target untuk terus melayani hingga lintas generasi bukan lagi sekadar impian, melainkan misi yang sedang dijalankan.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
