NTT-Post.com, SIKKA – Suasana khidmat menyelimuti “Natar Sikka” Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, saat lonceng tua Gereja Santo Ignatius Loyola bertalu, mengiringi Perayaan Ekaristi syukur 125 tahun berdirinya gereja bersejarah tersebut.
Perayaan syukur ini dipimpin langsung oleh Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, dan dihadiri oleh para imam, biarawan-biarawati, tokoh adat, serta ribuan umat yang datang dari berbagai penjuru paroki maupun luar daerah.
Dalam khotbahnya, Uskup Maumere, Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, menegaskan gereja tua ini bukan sekadar saksi bisu sejarah, melainkan suara yang berseru dalam keheningan tentang akar iman yang terus bertumbuh.
“Gereja tua Sikka di tengah Natar Sikka ini, tidak hanya berdiri sebagai saksi sejarah, tetapi berseru dalam keheningan bahwa di tempat inilah iman Katolik berakar, bertumbuh, dan diwariskan dari generasi ke generasi,” tutur Uskup di hadapan ratusan umat yang hadir.
Mgr. Ewaldus menekankan bahwa berdirinya Gereja Sikka adalah buah dari keberanian iman para misionaris terdahulu.
Ia mengingatkan umat bahwa pemilihan nama Santo Ignatius Loyola sebagai pelindung paroki memiliki makna yang sangat dalam sebagai arah hidup.
“Santo Ignatius mengajarkan bahwa seluruh hidup, karya, dan perjuangan kita harus diarahkan hanya pada satu tujuan: Ad Maiorem Dei Gloriam, demi kemuliaan Allah yang semakin besar,” ujar Uskup.
Monsinyur juga menyinggung simbolisme Meriam Tua yang berada di halaman gereja. Menurutnya, meriam tersebut bukanlah lambang kekerasan, melainkan penanda awal kehadiran Injil yang menjaga dan menyertai kehidupan masyarakat Sikka selama lebih dari satu abad.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
