Kata dia, warga yang menyetujui terealisasinya bantuan tersebut dikarenakan keterdesakan mengingat sudah musim hujan dan masyarakat sangat kewalahan menghadapi situasi atap seng yang bocor setiap harinya.
Sebaliknya, masyarakat yang meminta pemerintah mengkaji ulang bantuan itu karena menurut mereka seng tersebut tidak cocok untuk daerah terdampak, apalagi dalam sehari bisa terjadi dua hingga tiga kali erupsi gunung berapi.
“Masyarakat kami memang ada yang mau terima saja meskipun ketebalan seng yang tidak sesuai dengan keadaan saat ini, tetapi ada juga masyarakat yang berpikir untuk jangka panjang. Jangan sampai baru diganti lalu dua tiga bulan kemudian sengnya sudah bocor,” ungkap Ati.
Ketua BPD Desa Timu Tawa, Herdi Tukan, mengatakan bahwa di Desa Timutawa masyarakat penerima manfaat dan pemerintah desa telah menggelar pertemuan untuk memastikan bantuan tersebut.
“Kami telah mengadakan pertemuan dengan para penerima manfaat, apakah sepakat untuk menerima bantuan tersebut meski ukuran ketebalan seng 0,20 milimeter. Mereka pun menerima karena memang sudah sangat terdesak dengan keadaan. Jadi kami buat berita acara kesepakatan dan ditandatangani oleh mereka,” ucap Herdi.
Kata Herdi, berita acaranya dalam waktu dekat akan dikirim ke BPBD Kabupaten Sikka, sehingga harapannya bantuan tersebut segera di-drop ke Desa Timu Tawa.
“Memang secara kualitas, 0,20 milimeter ini tidak menjanjikan untuk tahan lama, kami merekomendasikan seng dengan ketebalan 0,30, tetapi apa boleh buat, masyarakat membutuhkan sekarang, dan sebenarnya mereka sedang terhimpit ekonomi karena gagal panen satu tahun penuh, mau beli seng atau mau beli beras untuk makan, mana lagi biaya sekolah anak-anak. Jadi pasrah saja,” ungkapnya.
Ia berharap, ke depannya jika bantuan tersebut masih ada untuk masyarakat terdampak, pemerintah perlu memperhatikan lebih detail sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Anggota DPRD Kabupaten Sikka dari Fraksi PKB, Agustinus Adeodatus, mengungkapkan telah melakukan diskusi bersama BPBD Kabupaten Sikka, namun sejauh ini belum ada realisasi dari diskusi tersebut.
Kata dia, seng dengan kualifikasi 0,20 milimeter yang ada di BPBD itu merupakan sisa seng dari bangunan hunian sementara warga terdampak erupsi di Flores Timur.
Adeo mengatakan, untuk wilayah terdampak erupsi seperti lima desa di wilayah Kecamatan Talibura seharusnya rekomendasinya seng 0,30 milimeter.
“Yang ada sekarang 0,20 di BPBD. Memang BPBD tidak berani memberikan kepada warga terdampak di sana, hanya saya meminta agar sebisa mungkin seng dengan spek itu bisa disalurkan kepada masyarakat, karena pertimbangan cuaca dan saat ini warga bertahan hanya menggunakan terpal,” ujarnya.
“Sejauh diskusi itu BPBD setuju saja kalau ada musyawarah di desa dan atas persetujuan dari masyarakat terdampak,” Adeodatus menambahkan.
Hingga berita ini diturunkan, Plt. BPBD Kabupaten Sikka, Johanes Putu Botha, belum memberikan tanggapannya terkait bantuan ini.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












