Indeks
Daerah  

Dorong UMKM Naik Kelas, Rumah BUMN Ende Gelar Pelatihan Kriya di Kampung Sikka

​"Target utama kami adalah membawa pelaku UMKM ini 'naik kelas. Indikatornya jelas, mulai dari peningkatan omzet hingga pertumbuhan ekonomi pelaku usahanya," ujar Albert. 

Reporter : Nivan Gomez Editor: Redaksi
IMG 20260212 142221
Pelatihan Kriya bagi Pelaku UMKM di Aula Gereja St. Ignatius Loyola Sikka, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Kamis, (12/2/2026). | (Foto: Nivan Gomez)

Fokus utama pemerintah adalah melihat sejauh mana kontribusi ekonomi kreatif (ekraf) terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Ende.

​”Kita ingin melihat dampaknya terhadap pendapatan mereka. Kriya adalah salah satu contoh nyata UMKM yang mampu menghasilkan pendapatan bagi masyarakat di sekitar daerah destinasi,” tambahnya.

​Selain peningkatan kualitas produk, sektor pemasaran juga menjadi sorotan. Kadis Pariwisata menyarankan agar pendampingan mencakup strategi promosi, baik secara langsung di lokasi wisata maupun melalui platform digital (online).

​”Harapannya, produk yang dihasilkan tidak hanya bergantung pada wisatawan yang datang berkunjung, tetapi juga bisa menembus pasar yang lebih luas lewat media online,” pungkasnya.

Manfaatkan Limbah Tenun Atau Tenun Bekas

Instruktur pelatihan dari Komunitas AkuSikka, Sherly Irawari Soesilo menjelaskan peserta diajarkan teknik dari dasar, mulai dari pengenalan bahan hingga proses pengemasan produk siap jual.

Pelatihan Kriya bagi Pelaku UMKM di Aula Gereja St. Ignatius Loyola Sikka, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Kamis, (12/2/2026). | (Foto: Nivan Gomez)

Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari gelang, kalung, anting, hingga benda-benda rohani seperti rosario dan gantungan kunci salib.

“Sangat penting bagi kita untuk mengolah sendiri limbah tenun atau tenun bekas. Selama ini, tenun bekas kita banyak keluar daerah dan diolah orang lain. Jika itu dibiarkan, kita justru menciptakan saingan bagi tenun baru kita sendiri,” ujar Sherly.

Ia juga menambahkan bahwa bahan alam seperti siput dan biji-bijian lokal turut digunakan sebagai kombinasi hiasan.

​Mama Yeti, salah satu peserta yang kesehariannya bekerja sebagai penjahit, mengaku sangat terbantu dengan kegiatan ini.

Menurutnya, selama ini sisa-sisa kain tenun belum dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan keterampilan.

​”Kami berharap setelah pelatihan ini bisa lebih percaya diri untuk membuka usaha sendiri dan memasarkan produk kriya ini secara lebih luas,” ungkap Mama Yeti.

​Kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga bagi para pelaku UMKM di Sikka, tetapi juga memperkuat daya tarik wisata rohani daerah melalui penyediaan suvenir khas lokal yang autentik.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung

Exit mobile version