Alasannya, ia menyadari adanya kamera pengawas (CCTV) di ruangan tersebut dan merasa hal itu adalah upaya untuk membodohi mereka.
“Saya bilang ke suami; ‘Enggak usah loh, jangan dikasih bodoh-bodohin orang, di sini ada CCTV’. Cukup kita di hotel saja,” kenang Elisabeth.
Ia menyebut perlakuan tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga hari setiap kali ia datang mengantarkan nasi untuk suaminya.
Elisabeth secara spesifik menyebutkan beberapa nama oknum yang terlibat dalam proses penyidikan dan pemberian fasilitas tersebut, di antaranya berinisial T, R, S, dan J.
Ia merasa heran mengapa seorang tahanan bisa mendapatkan perlakuan sedemikian rupa di dalam ruang penyidikan.
“Saya bingung, kenapa di kantor polisi kok bisa layani orang begitu. Setiap saya datang, mereka panggil saya ‘cantik’, layani saya dengan bagus,” tutupnya.
Selain fasilitas fisik, Elisabeth mencurigai adanya motif tertentu di balik kebaikan oknum-oknum tersebut. Ia menduga polisi sedang berupaya mengambil hati keluarganya agar mau mengikuti skenario untuk menutupi nama perusahaan atau “bos” yang terlibat dalam kasus TPPO ini.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
