Indeks
Daerah  

Tokoh Adat Sikka, Wens Wege Usul Ritual Adat untuk Pulihkan Martabat Guru dan Wibawa Bupati

Wens mengusulkan ritual pemulihan yang disebut sebagai 'Puli Meang Haput Waen, Guni Gelo Tena Lahin Bon Bowo' bertujuan mengembalikan "wajah" Guru yang sempat jatuh di hadapan rekan sejawatnya, sekaligus menyembuhkan luka fisik dan batinnya menggunakan simbol kunyit dan kemiri.

Reporter : Redaksi Editor: Tim Redaksi
IMG 20260117 140318
Wens Wege, Tokoh adat Kabupaten Sikka. | (Foto: HO Wens Wege)

NTT-Post.com, SIKKA – Menanggapi kegaduhan publik pasca-insiden jatuhnya Avelinus Nong, Wakepsek SDN Hamar saat ditegur Bupati Sikka, Tokoh Adat Kabupaten Sikka, Wens Wege, angkat bicara.

Wens Wege menawarkan jalan tengah melalui mekanisme adat Sikka yang menekankan pemulihan, bukan penghakiman.

Wens Wege menegaskan penyelesaian secara adat adalah langkah paling tepat karena tujuan utamanya adalah mengembalikan keseimbangan sosial dan martabat manusia.

“Adat tidak bertanya siapa yang paling salah, tetapi bagaimana manusia tetap bermartabat dan kehidupan bersama tetap utuh. Jika diselesaikan secara adat, Guru tidak dihancurkan, Bupati tidak direndahkan, dan masyarakat tidak terbelah,” ujar Wens Wege.

Wens mengusulkan ritual pemulihan yang disebut sebagai ‘Puli Meang Haput Waen, Guni Gelo Tena Lahin Bon Bowo’ bertujuan mengembalikan “wajah” Guru yang sempat jatuh di hadapan rekan sejawatnya, sekaligus menyembuhkan luka fisik dan batinnya menggunakan simbol kunyit dan kemiri.

“Pemimpin besar dalam adat Sikka bukanlah yang tidak pernah salah, tetapi yang berani menunduk agar Nian Tanah (tanah sikka) ini tetap tegak,” tuturnya.

Avelinus Nong, Wakil Kepala Sekolah SDN Hamar, yang menjadi korban kemarahan Bupati Sikka. | (Foto: NTT-Post)

Wens Wege merumuskan tujuh tahapan strategis untuk mengakhiri konflik ini yakni pertama Hentikan Kegaduhan Publik.

“Semua pernyataan terbuka di medsos harus dihentikan. Konflik dibawa ke “rumah adat” agar disembuhkan oleh kata-kata yang tenang,” jelasnya.

Kedua melibatkan tokoh netral. Dia menyarankan untuk memanggil ‘Tua Adat Tana Puan’ atau tokoh adat yang netral sebagai penjaga martabat, bukan sebagai hakim.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung

Exit mobile version