Ketiga Duduk Bersama Sebagai anak tanah. Wens menganjurkan agar memposisikan keduanya sebagai ‘Me Dulak Bua, Pu Loran Gae’ (Anak asli tanah ini).
“Di sini diakui bahwa Guru tersebut keliru secara disiplin (merokok), namun Bupati juga keliru dalam cara menegur yang merendahkan martabat,” ujarnya.
Keempat ia berharap Guru tersebut mengakui kesalahan tanpa dipermalukan, dan Bupati mengakui kekeliruan cara tanpa kehilangan wibawa.
Kelima Ritual adat ‘Puli Meang Haput Waen, Guni Gelo Tena Lahin Bon Bowo’, yang dimaksudkan untuk Pembersihan dan pemulihan nama baik secara spiritual dan fisik oleh tokoh adat.
Keenam ia meminta Bupati Sikka untuk berjanji kedepannya menegur sesuai etika prosedur, dan guru berjanji menjadi teladan disiplin.
Dan selanjutnya ditutup dengan Pernyataan Damai kepada Publik. Wens meminta tokoh adat mengumumkan perdamaian untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.
Wens Wege mengingatkan masalah yang dibesarkan di luar rumah hanya akan melukai banyak telinga.
Ia mengajak semua pihak untuk kembali ke filosofi ‘Naruk gete dadi kesik, naruk kesik dadi potat’ (Masalah besar dikecilkan, masalah kecil dihilangkan).
“Mari kita duduk bersama sebagai kakak adik. Kita hilangkan semuanya, saling memaafkan, dan biarkan persoalan ini kita tinggalkan jauh di bawah telapak kaki,” pungkasnya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
