Ia merinci, total ongkos yang harus dikeluarkan untuk mengangkut perlengkapan dan dirinya bisa mencapai Rp80.000. Jumlah ini sangat memberatkan, terutama bagi pedagang berskala kecil seperti dirinya.
“Biaya itu terlalu besar sekali untuk kami pedagang kecil. Apalagi saya yang jual ikan hanya lima sampai enam ikat ini,” jelas Daniati.
Daniati, yang menjual ikan hasil tangkapan sendiri setelah disisihkan untuk makan keluarga, merasa tidak akan mampu mengimbangi biaya operasional sebesar itu jika harus berjualan di Pasar Alok sesuai anjuran pemerintah.
Solidaritas Swadaya Timbun Jalan Berlubang
Di tengah keterbatasan, pedagang di Kampung Wuring menunjukkan solidaritas tinggi untuk menciptakan kondisi berjualan yang sedikit lebih baik.
Daniati mengaku ia bersama tiga pedagang lain bergotong royong mengumpulkan dana untuk membeli material.
“Ini saya punya dengan tiga orang pedagang sudah timbun satu truk tanah di sini. Kami timbun supaya tidak ada lagi genangan dan kami bisa pakai buat jualan serta pembeli nyaman,” ujar Daniati.
Mereka patungan Rp80.000 per orang untuk mendapatkan satu truk tanah yang digunakan untuk menimbun genangan air dan jalan berlubang di lokasi pasar darurat mereka.
Melalui perjuangan swadaya di tengah kegelapan, Daniati berharap Pemerintah Kabupaten Sikka dan DPRD Kabupaten Sikka dapat kembali meninjau nasib masyarakat sebelum memutuskan suatu kebijakan.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
