Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Daerah  

Tolak Relokasi ke Pasar Alok, Pedagang Sulap Bahu Jalan Kampung Wuring Jadi Pasar Darurat

Avatar photo
Reporter : Nivan Gomez Editor: Redaksi
IMG 20251210 164523
Pedagang Pasar Wuring yang menolak relokasi ke Pasar Alok dan menyulap bahu jalan jadi pasar darurat. | (Foto: Nivan Gomez)

Ia merinci, total ongkos yang harus dikeluarkan untuk mengangkut perlengkapan dan dirinya bisa mencapai Rp80.000. Jumlah ini sangat memberatkan, terutama bagi pedagang berskala kecil seperti dirinya.

“Biaya itu terlalu besar sekali untuk kami pedagang kecil. Apalagi saya yang jual ikan hanya lima sampai enam ikat ini,” jelas Daniati.

IDUL FITRI PINTU AIR 20260318 123428 0000.jpg 11 PASKAH 2026 PINTU AIR.jpg

Daniati, yang menjual ikan hasil tangkapan sendiri setelah disisihkan untuk makan keluarga, merasa tidak akan mampu mengimbangi biaya operasional sebesar itu jika harus berjualan di Pasar Alok sesuai anjuran pemerintah.

Solidaritas Swadaya Timbun Jalan Berlubang

Di tengah keterbatasan, pedagang di Kampung Wuring menunjukkan solidaritas tinggi untuk menciptakan kondisi berjualan yang sedikit lebih baik.
Daniati mengaku ia bersama tiga pedagang lain bergotong royong mengumpulkan dana untuk membeli material.

“Ini saya punya dengan tiga orang pedagang sudah timbun satu truk tanah di sini. Kami timbun supaya tidak ada lagi genangan dan kami bisa pakai buat jualan serta pembeli nyaman,” ujar Daniati.

Mereka patungan Rp80.000 per orang untuk mendapatkan satu truk tanah yang digunakan untuk menimbun genangan air dan jalan berlubang di lokasi pasar darurat mereka.

Melalui perjuangan swadaya di tengah kegelapan, Daniati berharap Pemerintah Kabupaten Sikka dan DPRD Kabupaten Sikka dapat kembali meninjau nasib masyarakat sebelum memutuskan suatu kebijakan.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung