Daniati, yang menjual ikan hasil tangkapan sendiri setelah disisihkan untuk makan keluarga, merasa tidak akan mampu mengimbangi biaya operasional sebesar itu jika harus berjualan di Pasar Alok sesuai anjuran pemerintah.
NTT-Post.com, SIKKA – Keputusan Pemerintah Kabupaten Sikka menutup total Pasar Wuring pada Selasa (9/12/2025) direspons pedagang dengan perlawanan senyap.
Ratusan pedagang memilih menolak relokasi ke Pasar Alok dan secara kompak memindahkan seluruh aktivitas jual beli ke sepanjang bahu Jalan Bengkunis Raya di Kampung Wuring.
Meskipun gerbang pasar Wuring kini dijaga ketat oleh tim gabungan Satuan Gugus Tugas Penertiban, TNI-Polri, Pol PP, dan Damkar Sikka, pedagang tetap bertahan hanya 300 meter dari sana.
Mereka menyulap jalanan yang berlubang, gelap, dan penuh genangan air menjadi pasar darurat. Tanpa tenda dan lapak, mereka hanya mengandalkan lampu ponsel sebagai penerangan.
Keputusan menolak Pasar Alok didorong oleh beban biaya operasional yang dinilai mencekik pedagang kecil.
Daniati (25), seorang nelayan wanita sekaligus pedagang ikan, menjelaskan biaya mobilisasi ke Alok sangat tidak masuk akal.
“Saya kalau harus jual ke Pasar Alok itu biaya ojeknya besar sekali. Mana harus muat boks, mana muat ikan, mana lagi muat air laut, pokoknya banyak sekali biayanya,” cerita Daniati di lapak dagangannya yang sederhana, Rabu, 10 Desember 2025.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
