“Rekaman itu adalah koleksi pribadi sebenarnya, Levi ingin mendokumentasikan aktivitas keluarga dan juga mengarsipkan berbagai cerita mengenai kehidupan orang tuanya yang berkaitan langsung dengan tanah, pepohonan, binatang dan alam sekitar dimana mereka bermukim,” ujar Elsyn.
Ketekunan Levi juga berbuah dari proses panjang yang jalani dari tahun-tahun sebelumnya.
“Dia memang suka bikin film dokumenter dari dulu. Nah, film SIE ini akhirnya dibuat karena kami hanya coba kirimkan proposal ke IDOCLAB. Ada 60 proposal diseleksi dan kami lolos hingga 10 besar. Kami dikabari masuk dalam empat proposal terbaik yang mendapatkan pendanaan dari Kemendikbud untuk produksi,” tambahnya.
Selain meraih penghargaan di panggung nasional, sebelumnya SIE juga menjadi salah satu pemenang di Festival Film Flobamora.
Yedida A Letedara dari Komunitas Film Kupang dan juga sebagai Direktur Festival Film Flobamora mengatakan, film SIE merupakan film dokumenter yang sangat personal namun universal di saat bersamaan.
“Yoseph Levi menyajikan cerita yang sangat dekat dengan kita di NTT tentang kehidupan masyarakatnya, khususnya dalam keluarga. Hal ini membuat film SIE istimewa menurut saya,” ujar Yedida.
Ia menilai perfilman di NTT memiliki potensi besar dan mampu bersaing di tingkat nasional, tinggal bagaimana para filmaker mengelolahnya dengan baik.
“Untuk meningkatkan kapasitas pembuatan film di NTT kita juga perlu dukungan banyak pihak dengan memperbanyak jumlah layar atau bioskop dan mendukung komunitas film NTT,” tutupnya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
