Ketika Moang Lesu sampai di Malaka, ia bertemu dengan Gubernur Malaka dan menyampaikan maksud kedatangannya yaitu mencari “Tanah Moret”.
Gubernur Malaka pun menanggapi penyampaian Moang Lesu bahwa ada kehidupan yang bahagia dan kekal setelah kematian di dunia ini.
Untuk mendapatkannya, Moang Lesu harus mengikuti persyaratan-persyaratan yakni membangun gereja dan mengikuti ajaran-ajaran gereja.
Moang Lesu pun menyetujui persyaratan-pesyaratan tersebut dan mengikuti pelajaran Agama Katolik, pelajaran ilmu politik, dan pemerintahan selama 3 tahun.
”Moang Lesu kemudian dibaptis dengan nama Don Alexius Ximenes da Silva dan dilantik menjadi Raja Sikka. Ia belajar agama dan pemerintahan selama tiga tahun di Malaka sebelum kembali ke Sikka,” ujar Orestis Parera.
Setelah 3 tahun ia di Malaka, Moang Lesu kemudian memutuskan untuk kembali ke Sikka. Sebelum pulang, Moang Lesu menghadiahkan Gubernur Malaka sejumlah emas dan wewangian yang dalam bahasa Sikka disebut “ambar menik” (muntahan ikan paus).
Sebaliknya, Gubernur Malaka menghadiahkan Moang Lesu sebuah Salib Senhor, Patung Meninung (Patung Kanak-kanak Yesus sebagai Raja), Tugur Griang (panji yang bergambar orang kudus), Regalia kerajaan, dan sejumlah batang gading berukuran besar dan sedang.
Sekitar tahun 1960, Moang Lesu pun pulang ke Sikka dan didampingi seorang guru agama berkebangsaan Portugis bernama Agustino Morenho.
Setibanya di Sikka, Agustino Morenho kemudian menyelenggarakan upacara pengukuhan kembali Moyang Lesu menjadi Raja Sikka.
Agustino Morenho juga mulai mengajar iman Katolik kepada keluarga Raja Sikka. Ia memimpin upacara Liturgi Gereja yaitu Liturgi Logu Senhor pada hari raya Jumat Agung yang dalam bahasa Sikka disebut “Sexta Vera”.
Agustino Morenho menerangkan bahwa Logu Senhor berarti berjalan di bawah usungan Salib Senhor sambil membawa lilin yang bernyala seraya menyampaikan doa dan keinginan dalam hati yang semoga dikabulkan oleh Tuhan Yesus yang menderita dan wafat di salib hari itu.
Para peserta Logu Senhor memberikan kesaksian iman bahwa dengan mengikuti upacara ini, Tuhan mengabulkan doa dan permohonan mereka.
Sejak saat itulah upacara Logu Senhor dilaksanakan pada perayaan Jumat Agung setiap tahunnya.
Orestis Parera juga menuturkan bahwa pada trdisi Logu Senhor sempat ditiadakan oleh para Imam Jesuit yang menjadi pastor paroki Sikka.
Namun, berdasarkan kesepakatan umat dan persetujuan pastor paroki maka Logu Senhor kembali dilaksanakan seperti biasa dan bertahan sampai saat ini.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












