Baca Juga: Sistem Drainase Buruk, Jalan di Kota Maumere jadi Langganan Genangan Air Raksasa
“Ketimbang tidak nyaman di sini, sebaiknya kami pulang ke Hokeng,” kata Korly, sembari menggambarkan kondisi dinding dan sisi copel yang mulai retak dan tergantung akibat gerusan air.
Korly juga menyebut, copel yang ditempati warga terdampak erupsi dari Desa Nobo kini sudah ditinggalkan para penghuninya. Menurutnya, kenyamanan dan keselamatan menjadi alasan utama mereka memilih pergi.
“Mereka sudah tinggalkan hunian sebab sangat tidak nyaman. Banyak sisi copel mereka yang sudah tergantung akibat gerusan air hujan yang berlipat ganda, baik dari tirisan atap maupun luapan dari genangan di sekitar kali. Kira datang ke sini semakin aman, malah tambah tidak nyaman,” keluhnya.
Baca Juga: Kejari Sikka Tetapkan 5 Tersangka Korupsi IKK Nita, Kerugian Negara Capai Rp3,07 Miliar
Warga berharap pemerintah segera melakukan pembenahan struktur huntara agar risiko banjir dan longsor tidak lagi mengancam kehidupan mereka.
Saat ini, kondisi di Huntara 3 dikabarkan semakin mengkhawatirkan, terutama bagi penyintas yang masih bertahan di lokasi tersebut.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
