Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Daerah  

Proyek Miliaran Gagal, Emak-Emak Dusun Rotat Turun Tangan Pikul Pipa Lintasi Bukit demi Air Bersih

"Kami sangat bangga dan bersemangat karena air bersih yang dirindukan sejak awal kemerdekaan akan segera tiba di Dusun Rotat. Lelah tidak terasa kalau diingat kami akan segera bebas dari krisis air," ungkap Edita Dua Lodan, salah satu warga Dusun Rotat. 

Avatar photo
Reporter : Nivan Gomez Editor: Redaksi
InShot 20260717 075443877
Proyek Miliaran Gagal, Emak-Emak Dusun Rotat Turun Tangan Pikul Pipa Lintasi Bukit demi Air Bersih. | (Foto: Nivan Gomez)

Titik terang krisis air di Dusun Rotat ini terwujud berkat kedermawanan Suitbertus Amandus. Tokoh masyarakat Sikka ini merelakan 11 titik mata air yang muncul di kebun pribadinya di Nilo untuk dialirkan secara cuma-cuma dan berlaku seumur hidup bagi warga Rotat.

Langkah ini juga menjadi pemenuhan janji moral kemanusiaan Amandus kepada masyarakat setempat.

“Kami bergerak murni swadaya. Saya menyediakan sumber airnya secara gratis dan ikhlas, lalu kami bersama masyarakat mengumpulkan uang secara gotong royong untuk membeli pipa,” jelas Amandus.

Hingga Kamis (16/7/2026), proses instalasi pipa hasil kerja sama warga Rotat dan warga Nilo ini sudah berjalan setengah jalan (sekitar 1,5 kilometer) dan ditargetkan akan rampung total pada Selasa depan.

Gerakan ini juga mendapat dukungan penuh dari tokoh masyarakat Rotat, Yakobus Jano, yang ikut menyokong daya dan upaya warga.

Sebelum pipa ditarik menembus hutan, warga lebih dulu menggelar ibadat sabda bersama Pastor Paroki di lokasi mata air, yang dilanjutkan dengan ritual adat memberi makan leluhur agar seluruh proses kerja bakti berjalan aman dan lancar.

Keberhasilan gerakan swadaya yang dimotori para tokoh dan emak-emak ini menjadi kritik tajam bagi pemerintah daerah.

Selama puluhan tahun, warga Rotat terpaksa merogoh kocek Rp150.000 hingga Rp300.000 per tangki hanya untuk membeli air bersih, padahal wilayah mereka berdekatan dengan bak penampung besar Wair Puan yang menghidupi Kota Maumere.

Kekecewaan memuncak saat proyek raksasa IKK Nita tahun 2023 yang menelan anggaran miliaran rupiah justru mandek dan telantar menjadi pajangan pipa mati tanpa asas manfaat.

“Di Dusun Rotat itu ada proyek raksasa yang gagal, yaitu IKK Nita. Ini menunjukkan bahwa kami tidak butuh proyek besar yang cuma jadi pajangan, tapi kami butuh aksi nyata yang bisa kami nikmati. Dan hari ini kami mendapatkannya dari Bapak Amandus, Ibu Irvin, dan Bapak Jano,” pungkas warga.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung