Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Kisah Inspiratif! Perjalanan 35 Tahun Maria Modesta Menggantungkan Hidup dari Tumpukan Rongsokan

Avatar photo
Reporter : Nivan Gomez Editor: Ade Riberu
FotoJet 3 1
Maria Modesta saat memisahkan botol bekas untuk ditimbang. Foto: Nivan / NTTPost.com

Maria tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah reot yang dibangun dengan tangan dan materian seadanya: semuanya dari seng bekas hasil mulung.

Ironisnya, gubuk reyot ini berdiri tegak di atas lahan milik Pemerintah Kabupaten Sikka. Lokasi tempat tinggalnya, yang berada dekat dengan pusat pemerintahan, justru menyoroti betapa dekatnya kemiskinan dengan pusat kekuasaan.

Di tengah perjuangan kerasnya yang tak kenal lelah, bantuan dari pihak berwenang terasa begitu langka. Maria Modesta adalah salah satu potret warga miskin yang seolah luput dari data dan perhatian.

“Saya hanya pernah menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar Rp1.200.000, dan itu pun sudah berlalu beberapa tahun yang lalu,” jelasnya.

Hingga kini, uluran tangan dari pemerintah yang konsisten tak kunjung tiba, meninggalkan Maria dan keluarganya dalam perjuangan yang nyaris sendirian.

Maria Modesta, janda berusia 57 tahun ini, adalah simbol dari ketangguhan, kegigihan, dan cinta seorang ibu di tengah keterbatasan ekstrem.

Tiga puluh lima tahun mengais sampah bukanlah pilihan, melainkan bentuk pengorbanan suci. Ia menolak menyerah, terus berjuang demi memastikan anak dan cucunya tidak kelaparan.

​Di usia senja, Maria tak berharap banyak. Ia hanya ingin diberi kesehatan agar tetap bisa berjuang setiap pagi.

“Saya cuma bisa berdoa semoga Tuhan kasih saya umur yang panjang dan badan yang kuat supaya bisa terus cari rezeki untuk makan,” pungkasnya.

Nong Boni, tokoh muda Maumere, menyebut Maria dan para pemulung lainnya justru telah berperan besar menjaga kebersihan kota.

​”Pemulung seperti Ibu Maria ini bagian dari sistem kebersihan kota. Mereka mengambil sampah-sampah di sudut yang tidak dijangkau petugas. Harusnya pemerintah menginventarisir dan memberi insentif, minimal dalam bentuk pendampingan dan perlindungan kesehatan,” tegas Boni.

​Menurutnya, pekerjaan memulung sangat rentan terhadap paparan penyakit karena bersentuhan langsung dengan sampah.

​”Kalau Kota Maumere ingin bersih, jangan lupa jasa mereka yang setiap hari mengangkat sisa kita,” tambahnya.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung