NTT-Post.com, SIKKA – Sejumlah organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus, yakni GMNI Sikka, HMI, Eksekutif Kota LMND, dan BEM UNIPA, kembali turun ke jalan untuk menggelar aksi demonstrasi damai di Kantor Bupati Sikka, NTT, pada Rabu (8/4/2026) siang.
Aksi bertajuk Cipayung Jilid II ini merupakan gerakan lanjutan untuk mengevaluasi satu tahun kinerja kepemimpinan Bupati Juventus Prima Yoris Kago dan Wakil Bupati Simon Subandi Supriadi.
Dalam dialog di ruang Rokatenda, para mahasiswa membeberkan sejumlah rapor merah terkait janji politik dan pembangunan infrastruktur yang dinilai belum memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Ketua GMNI Sikka, Wilfridus Iko, menyoroti kondisi jalan di berbagai wilayah yang hingga kini belum tersentuh pembangunan atau mengalami kerusakan parah.
Beberapa poin krusial yang disampaikan meliputi kerusakan ruas jalan Tanarawa-Werang, Tanarawa-Natarmage, kecamatan Waiblama.

Tak hanya itu, Cipayung Plus juga menyoroti jalan di pusat kota seperti area Litbang, jalan di kampung wiring dan ruas Waidoko-Magepanda dilaporkan rusak parah, yang dinilai mencoreng citra kota.
“Kami memiliki kajian dan menemukan jalan dari kampung hingga ke kota ini rusak parah. Ini adalah bukti bahwa lemahnya kepimpinan Bupati dan Wakil Bupati Sikka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat,” jelas Ketua GMNI.
Selanjutnya Cipayung Plus menyayangkan kerusakan sejumlah jembatan di kabupaten Sikka yang dinilai dibiarkan begitu saja.
“Di wilayah Lekebai-Tanawawo, masyarakat masih terisolasi saat musim hujan karena jembatan yang belum dibangun. Dan sampai sekarang tidak ada perhatian Bupati dan Wakil,” tutur Igo.
Selanjutnya dari advokasi Cipayung Plus menemukan, banyak Desa yang tidak bisa mengakses jaringan telekomunikasi atau jaringan internet.
Wilfridus menjelaskan, di Desa Hebing Kecamatan Mapitara, jaringan tidak bisa diakses oleh masyarakat Kecamatan Mapitara secara khusus di mulai dari Desa Hebing sampai di Galit.
“Itu jaringan tidak bisa diakses. Advokasi kita menemukan demikian. Kita berharap Bupati dan Wakil juga bisa melihat ini,” ujarnya.

Cipayung Plus juga menyinggung ketidak tersedianya jaringan listrik disejumlah pelosok desa di Kabupaten Sikka yang mana hal tersebut menurut Cipayung Plus adalah kebutuhan dasar masyarakat.
Mahasiswa juga menagih janji kampanye atau janji politik yang sempat membius masyarakat Kabupaten Sikka, diiringi dengan slogan jaringan pusat yang hingga kini dianggap sebagai pembohongan publik.
Selanjutnya mahasiswa juga menagih janji politik Bupati dan Wakil Bupati Sikka yang akan membangun 20.000 Rumah Layak Huni di Kabupaten Sikka.
Dan menurut mahasiswa, hingga saat ini belum ada realisasi atas janji kampanye yang telah membius masyarakat saat itu.
Di Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, ada rumah yang masih pakai alang-alang, dinding pelupu. Di Desa Tadalado, di Desa Werang, di Desa Natarmage, dan di Desa Ian Tena masih banyak rumah tak layak huni yang belum tersentuh.
“Ya janji banyak 20.000 rumah, tetapi setidaknya satu dua rumah itu dibangun, puluhan rumah dibangun. Ini tidak ada memang, nol besar, Inikah jaringan pusat yang selalu diagungkan, miris, miris sekali,” tegas Mahasiswa.
Selanjutnya janji Bupati dan Wakil Bupati Sikka yang menyebut akan melanjutkan pembangunan Rumah Sakit Pratama Doreng yang lagi mangkrak. Namun sejauh ini, menurut mahasiswa belum ada realisasi apapun.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












