Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pelaku Usaha Kreatif Lokal Kecewa Tidak Dilibatkan dalam Festival Musik Tradisi Indonesia 2026 di Maumere

"Kami kecewa karena sudah mengeluarkan uang untuk menyesuaikan spesifikasi yang diminta, tetapi sampai hari ini tidak ada penjelasan yang pasti," ungkap Wily.

Avatar photo
Reporter : Nivan Gomez Editor: Redaksi
1002184976 e1792809142294
Pelaku Usaha Kreatif Lokal Kecewa Tidak Dilibatkan dalam Festival Musik Tradisisi Indonesia 2026 di Maumere. | (Foto: Nivan Gomez)

NTT-Post.com, SIKKA — Sejumlah pelaku usaha kreatif lokal yang tergabung dalam In-Tim Project mengaku kecewa lantaran tidak dilibatkan dalam penyediaan kebutuhan teknis penyelenggaraan Festival Musik Tradisisi Indonesia (FMTI) 2026 yang berlangsung di Kota Maumere, Kabupaten Sikka.

Padahal, mereka mengklaim telah mengeluarkan modal belasan juta rupiah, menyiapkan penawaran resmi, menyusun portofolio, hingga membuat desain tata panggung 3D sesuai dengan spesifikasi awal yang diminta pihak penyelenggara.

Koordinator In-Tim Project, Wily, menjelaskan bahwa keterlibatan mereka bermula saat pihak terkait meminta spesifikasi peralatan dan portofolio untuk mendukung kesuksesan festival tersebut.

Kelompok yang menghimpun para pelaku usaha lokal ini lantas merespons dengan menyusun penawaran kebutuhan teknis secara menyeluruh, meliputi tata suara (sound system), pencahayaan (lighting), genset, dekorasi, hingga perlengkapan pendukung lainnya.

IMG 20261024 WA0003
Pelaku Usaha Kreatif Lokal Kecewa Tidak Dilibatkan dalam Festival Musik Tradisisi Indonesia 2026 di Maumere. | (Foto: dok istimewa)

Baca Juga: Realisasi Banpres Gempa Bumi Sikka Rp20 Miliar Baru 11%, Bupati: Target Selesai Akhir Desember 2026

“Kami sudah kasih masuk penawaran, portofolio, sampai desain tata letak dalam bentuk 3D. Kami pikir sudah ada perkembangan positif karena sudah dua kali mengikuti pertemuan melalui Zoom meeting bersama pihak terkait,” ujar Wily pada Jumat (23/10/2026) sore.

Merugi Modal hingga Rp15 Juta dan Kejelasan Penolakan

Namun, seusai rangkaian komunikasi tersebut, Wily dan timnya tidak kunjung mendapatkan kepastian maupun penjelasan resmi mengenai status penawaran mereka.

Mendekati hari pelaksanaan kegiatan, mereka justru mendapati bahwa pekerjaan teknis festival tersebut telah dialihkan kepada vendor dari luar daerah.

“Kami kecewa karena sudah mengeluarkan uang untuk menyesuaikan spesifikasi yang diminta, tetapi sampai hari ini tidak ada penjelasan yang pasti,” ungkap Wily.

Baca Juga: Beda Keterangan, Paman Siswa SD Gantung Diri di Sikka Ungkap Ada Permintaan Bawa HP dari Sekolah

Untuk memenuhi spesifikasi yang diminta penyelenggara seperti melengkapi perlengkapan mikrofon, kabel, serta kebutuhan teknis pendukung In-Tim Project terpaksa merogoh kocek hingga sekitar Rp15 juta.

Salah satu penyesuaian utama yang disyaratkan adalah penggunaan konsol mixer digital, sementara peralatan awal milik vendor lokal masih berbasis sistem analog.

Meski demikian, Wily meyakini peralatan mereka sebenarnya sangat layak untuk mendukung pertunjukan musik tradisional, khususnya instrumen Gong Waning.

Anggota tim In-Tim Project, Temi, menambahkan bahwa meskipun kelompok In-Tim Project baru dibentuk untuk merespons permintaan festival ini, para anggotanya telah memiliki pengalaman panjang secara perorangan dalam menangani berbagai event pertunjukan dan musik, baik di Maumere maupun kabupaten lain.

“Kalau memang ada kekurangan dari kami, seharusnya disampaikan secara terbuka. Sampai sekarang kami belum mendapatkan alasan yang jelas mengapa tidak diakomodasi,” kata Temi.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung