Monsinyur menyoroti berbagai bentuk kehausan yang dialami umat saat ini yakni haus akan makna hidup di tengah rutinitas yang melelahkan.
“Haus akan keadilan di tengah ketidakjujuran. Haus akan perhatian di tengah keluarga yang sibuk dan haus akan kehadiran nyata dalam Komunitas Basis Gereja (KBG),” sebut Uskup.
Secara khusus, Uskup Maumere memberikan tantangan bagi penguatan Komunitas Basis Gereja (KBG).
Ia menilai banyak KBG yang sedang mengalami kehausan akan kebersamaan yang tulus dan iman yang hidup, bukan sekadar rutinitas formal.
Sebagai wujud nyata menjawab dahaga Yesus, Uskup mengajak umat untuk memberi perhatian kepada mereka yang menderita, sakit, dan terlupakan.
“Saling mendengar dalam keluarga untuk mencegah pertengkaran dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan terlibat aktif dalam kegiatan KBG sebagai wujud iman yang nyata,” serunya.
Menutup khotbahnya, Mgr. Edwaldus mengingatkan bahwa mencium salib pada Jumat Agung bukan sekadar ritual kesedihan, melainkan simbol komitmen untuk memulihkan relasi yang retak dengan sesama.
“Apa yang akan kita berikan kepada Dia yang haus? Bukan sekadar air, tetapi hati kita. Bukan sekadar kata-kata, tetapi hidup kita. Saat kita memberi ‘minum’ kepada Tuhan melalui kasih kepada sesama, justru kehausan kita sendirilah yang akan disegarkan,” pungkasnya.
Ibadat berlangsung dengan khidmat dan berjalan lancar di salah satu gereja bersejarah di Kabupaten Sikka tersebut.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
