Sementara digitalisasi manajemen, akan difokuskan pada pemanfaatan teknologi informasi untuk pencatatan produksi, pemantauan kesehatan ternak, hingga pemasaran digital.
Dengan digitalisasi, peternak kini bisa lebih mandiri dan efisien dalam mengelola aset mereka.
“Dengan aplikasi, peternak bisa mengetahui jadwal vaksinasi, memantau bobot ternak, dan menentukan pasar dengan harga terbaik. Efisiensi meningkat, pendapatan juga ikut naik,” tambah Trimeldus.
Selain teknologi, aspek pemberdayaan SDM menjadi perhatian utama. Kelompok peternak terus didorong untuk mengikuti pelatihan manajemen usaha, pendampingan teknis, serta difasilitasi untuk mendapatkan akses permodalan melalui perbankan dan program pemerintah.
Upaya ini dilakukan demi mengubah pola pemeliharaan tradisional menjadi sistem yang lebih terukur dan efektif.
“Di sisi lain, ekosistem ini diperkuat melalui kemitraan strategis antara pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat,” ujarnya.
Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan rantai pasok yang terintegrasi dari hulu hingga hilir—mulai dari pembibitan, penggemukan, pengolahan, hingga pemasaran produk.
Jika komitmen ini berjalan konsisten, TTU diproyeksikan bakal menjadi kiblat peternakan modern di NTT.
Kadis Peternakan menegaskan, dampak positif yang diincar meliputi, peningkatan produktivitas dan kualitas komoditas ternak, pembukaan lapangan kerja baru di sektor agrobisnis dan peningkatan pendapatan masyarakat secara inklusif.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












