“Itu yang ada dijalan raya tidak ditertibkan, malah kami yang ada di dalam kawasan Kelurahan/Desa ini yang ditertibkan. Pemerintah pilih kasih,” tuturnya.
Tolak Relokasi Ke Pasar Alok
Meskipun pemerintah telah menyiapkan relokasi ke Pasar Alok, para pedagang mengaku enggan pindah karena beberapa alasan.
Mama Sauqy menyebut lokasi Pasar Alok dianggap terlalu jauh sehingga menambah pengeluaran untuk biaya kendaraan. Para pedagang juga mengeluhkan besaran pajak di Pasar Alok yang dinilai memberatkan.
“Pasar Alok terlalu luas jadi sulit kami didatangi pembeli. Kalau pembeli sudah ada dibagian timur Pasar berarti kami yang dibagian barat tidak lagi didatangi kerena penjual banyak,” tuturnya.
Menurut Mama Sauqy, perputaran uang pedagang ketika berjualan di Pasar Alok dan berjualan di Wuring sangat berbeda. Malah pedagang merasa rugi ketika berjualan di Pasar Alok.
“Berbeda dengan di Wuring, pasarnya tidak terlalu luas jadi pembeli ramai dan lebih lancar karena dekat dengan pelabuhan. Kalau di pasar Alok kami mati,” jelasnya.
Para pedagang merasa putus harapan karena hilangnya tempat mencari nafkah akan berdampak langsung pada kelangsungan hidup keluarga, termasuk biaya sekolah anak serta tagihan air dan listrik.
“Kalau kami tidak jualan, bagaimana kami punya hidup? Biaya anak sekolah? Biaya makan minum?” tanya Mama Sauqy.
Meski diprotes para pedagang, Petugas melakukan pembongkaran lapak pedagang di wilayah itu. Penertiban dijadwalkan hingga Kamis mendatang.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












