Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Umpatan Monyet Kepada Guru di Sikka, PGRI dan TaGSi Sikka Sebut Ada Indikasi Rasis dan Bullying

"Kami melihat ada penyerangan verbal, yaitu bullying. Bullying dan rasis. Selama ini mungkin yang muncul baru soal rasis, tetapi bullying-nya belum. Bahkan kalau benar ada dorongan terhadap korban, itu juga merupakan kekerasan fisik," katanya.

Avatar photo
Reporter : Nivan Gomez Editor: Redaksi
IMG 20260807 WA0006
Umpatan Monyet Kepada Guru di Sikka, PGRI dan TaGSi Sikka Sebut Ada Indikasi Rasis dan Bullying. | (Foto: Dok istimewa)

NTT-Post.com, SIKKA – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Sikka bersama Ikatan Guru Sertifikasi Indonesia (TaGSi) Kabupaten Sikka mengecam keras dugaan penghinaan terhadap guru agama Katolik SMP Negeri 3 Kewapante, Marselinus Atapuken.

Ia mengaku dikatai “monyet” oleh oknum pegawai di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sikka.

Sikap tersebut disampaikan dalam konferensi pers di SDN Wairotang, Kamis (6/8/2026) pagi. Hadir Ketua Pelaksana PGRI Cabang Sikka Fransesko Losi, Wakil Koordinator TaGSi Sikka Ritwan Bas Putra, Wakil Ketua TaGSi Benediktus Bensi, dan pengurus TaGSi Yohanes Lidi.

Fransesko Losi mengatakan organisasi guru langsung berkoordinasi usai menerima laporan dari korban.

“Beliau menelepon kami dan bertanya bagaimana sikap PGRI maupun TaGSi. Saat itu saya sampaikan bahwa organisasi harus berkoordinasi terlebih dahulu sebelum menyatakan sikap. Hari ini kami sepakat memberikan pernyataan sikap,” katanya.

IMG 20260804 WA0013
Seorang guru agama Katolik di Kabupaten Sikka, Marselinus Atapuken, mengaku diusir dan dimaki dengan kata-kata kasar oleh oknum pejabat di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). | (Foto: Nivan Gomez)

Ia menegaskan pihaknya tidak menerima perlakuan yang dialami koleganya itu. “Kami mengecam keras atas perlakuan tidak senonoh terhadap salah satu teman guru kami. Satu guru tersakiti, itu menjadi sakit semua guru di Kabupaten Sikka ini. Oleh karena itu kami tidak menerima perlakuan tersebut,” tegasnya.

Losi juga menyayangkan insiden itu terjadi di lembaga yang semestinya menjadi contoh etika.

“Kami sangat kecewa terhadap lembaga yang sebenarnya menjadi garda terdepan untuk menjadi contoh etika dan moral. Ternyata mereka keliru menerapkannya,” ujarnya.

PGRI Kabupaten Sikka disebut telah berkoordinasi dengan PGRI Provinsi NTT. Seluruh dokumen dan kronologi kejadian akan diteruskan ke Kantor Wilayah Kementerian Agama NTT.

PGRI dan TaGSi juga berencana meminta Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPRD Kabupaten Sikka.

“Kami akan meminta pertanggungjawaban melalui RDP. Kami sudah berkoordinasi dengan DPRD dan mereka menyatakan siap. Tinggal kami menyurati DPRD melalui organisasi,” kata Losi.

Wakil Koordinator TaGSi Benediktus Bensi mempertanyakan alasan di balik dugaan perlakuan yang dialami korban.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung