Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

PTTEP Indonesia dan Kemenko Pangan Resmikan Fasilitas Pengolahan Sampah Organik di Labuan Bajo, Dorong Terciptanya Ekonomi Sirkular

Peresmian fasilitas pengolahan sampah organik di Labuan Bajo oleh PTTEP Indonesia dan Kemenko Pangan menjadi langkah nyata mendorong ekonomi sirkular dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih serta berkelanjutan.

Avatar photo
Reporter : Ade Riberu Editor: Redaksi NTT Post
FotoJet 2
Fasilitas Pengolahan Sampah Organik dan Pusat Edukasi di Labuan Bajo yang baru diresmikan PTTEP Indonesia pada Sabtu, 11 April 2026, bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat. (Foto: Dok. Istimewa)

Sementara itu, Asisten III Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Aloysius Lahi, menyoroti tantangan besar yang dihadapi daerahnya dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan data tahun 2025, timbulan sampah di wilayah tersebut mencapai 53.768,70 ton per tahun, sementara kapasitas pengelolaan baru sekitar 30.000 ton.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan yang perlu segera diatasi melalui inovasi dan kolaborasi. Ia menilai kehadiran fasilitas ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah sekaligus mendukung terwujudnya Labuan Bajo sebagai destinasi wisata yang bersih dan berkelanjutan.

“Program ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan Labuan Bajo yang bersih dan berkelanjutan. Kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas pengolahan sampah yang telah tersedia dengan sebaik-baiknya” ujar Lahi.

Selain fungsi operasional, pusat edukasi yang terintegrasi dalam fasilitas ini juga akan menjadi motor penggerak perubahan perilaku masyarakat. Berbagai kegiatan seperti pelatihan, lokakarya, hingga sosialisasi rutin akan digelar dengan menyasar pelajar, komunitas, serta praktisi pengelolaan sampah.

Kepala Sekolah TK Pembina, Elisabeth Setiani, mengungkapkan bahwa program ini telah memberikan dampak nyata bagi siswa dan orang tua. Ia menuturkan, sebelumnya kesadaran anak-anak terhadap pengelolaan sampah masih rendah, namun kini mulai berubah secara signifikan.

Setelah mengikuti program ini, anak-anak didiknya mulai belajar bagaimana mengelola dan memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang bernilai.

Bahkan, mereka dapat merasakan langsung manfaatnya, ketika sampah yang dikumpulkan dapat ditukar dengan sembako melalui kegiatan bazar di sekolah.

“Kami merasa sangat beruntung dan senang dapat dilibatkan dalam Program Positif Bajo. Dampaknya sangat terasa, baik bagi anak-anak maupun orang tua murid,” katanya.

Untuk diketahui, PTTEP Indonesia merupakan perusahaan minyak dan gas asal Thailand yang secara aktif mendukung berbagai inisiatif lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah operasinya.

Keterlibatan perusahaan dalam program pengelolaan sampah di Labuan Bajo mencerminkan strategi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) yang lebih luas dalam menjawab tantangan lingkungan sekaligus menciptakan nilai bersama bagi masyarakat.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung