Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Nelayan Perempuan Sikka Terhempas Cuaca Ekstrem

Avatar photo
Reporter : Mia Margaretha Holo Editor: Ade Riberu
FotoJet 2
Merawati (69), nelayan perempuan asal Ndete, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. (Foto: Mia Margaretha Holo/NTT Post)

NTT-Post.com, MAUMERE – Gemuruh angin memecah kesunyian laut. Merawati yang tengah menjaring ikan di perairan Ndete, Laut Flores pada pertengahan November 2025 tersentak dari fokusnya. Pada saat bersamaan hujan turun. Gelombang laut mulai mengguncang perahu kecil yang ditumpanginya. Suasana yang makin mencekam memaksa perempuan berusia 69 itu menghentikan pekerjaannya sejenak.

Dalam hitungan menit, langit yang sore yang tadinya terlihat sangat cerah berubah menjadi gelap. Hujan deras tanpa ampun membasahi tubuh Merawati. Arus laut yang kencang pun mulai menyeret sampannya.

Seorang perempuan berteriak ke arahnya dengan berbahasa Bajo. “Merawati, paduainu batu labu (Merawati, turunkan jangkarnya),” kata perempuan yang berjarak tiga meter darinya. Merawati tersadar. Ia hafal betul suara itu. Suara temannya, Hamjanur, meski sosoknya terhalang kabut.

Merawati yang basah kuyup itu buru-buru melepas jangkar dengan tangan gemetar, satu-satunya upaya untuk tetap bertahan agar tidak terseret lebih jauh ke tengah. Sembari menunggu arus mereda, ia meneguk sedikit air dari botol bekas air mineral yang dibawanya sebagai bekal. Dia mencoba menenangkan diri sejenak. Suara badai yang terus menggeram membuatnya larut merapal doa, “Tuhan, bawa saya kembali dengan selamat ke rumah.”

Perahunya berada sekitar 400 meter dari pantai yang sejatinya tak terlalu jauh menurutnya. Namun di tengah cuaca yang memburuk dan gelombang yang kian meninggi, jarak tersebut terasa begitu jauh.

Kumandang azan subuh menyadarkannya bahwa malam telah usai. Ini saatnya dia mendayung perahu pulang. “Saya hanya dapat tiga ekor ikan kecil, tidak cukup untuk di jual,” ujar Merawati saat ditemui di rumah panggungnya yang menghadap laut, Minggu, 7 Desember 2025.

Merawati merupakan warga keturunan suku Bajo, salah satu suku yang mendiami pesisir Flores pada umumnya termasuk di wilayah Ndete, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka.  Nenek moyang mereka dikenal sebagai pengembara laut dan nelayan yang mencari ikan dengan memancing dan pukat.

Secara geografis, Desa Reroroja berada di pesisir utara Pulau Flores, berjarak sekitar 31 kilometer dari Kota Maumere dan berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Ende. Jumlah penduduk di Reroroja sebanyak 2.192 jiwa dengan mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, 184 jiwa di antaranya terdata sebagai nelayan.

Suku Bajo sudah lama dikenal memiliki pengetahuan tradisional tentang melaut. Merawati mengaku hafal betul siklus angin barat dan angin timur. Dia juga tahu kapan ikan mendekat ke pantai, dan kapan laut harus dihindari. Namun beberapa tahun terakhir, dia mengakui tanda-tanda alam yang dulu akurat kini kerap mengecoh. “Siangnya cerah sekali, jauh malam tiba-tiba hujan.”

Merawati mengakui, perkiraannya kini sering meleset. Cuaca sering berubah. Perubahan ini sering menyebabkan mereka panik di tengah laut karena tanpa persiapan. “Dulu mudah saja, kalau kami lihat ke utara hitam pekat, berarti akan turun hujan atau mungkin sedang hujan di tengah laut. Kalau sekarang susah, sepanjang hari teduh, malamnya hujan,” ungkap Merawati.

Merawati sendiri tidak menyebutnya perubahan iklim. Ia tidak mengenal istilah-istilah ilmiah. Tapi pengalamannya merasakan perubahan itu setiap hari. Istilah itu, kata dia, baru terdengar belakangan ini, ketika para nelayan mengeluhkan cuaca panas, gelombang yang semakin tinggi, banjir rob yang semakin sering dan hasil tangkapan yang tak memadai.

“Kami hanya bilang, bumi sudah tua sekali, jadi hujan dan kemarau itu datang tidak tahu musim. Itu yang kami rasakan sekitar sepuluh tahun terakhir. Kalau datang musim kemarau kadang panjang sekali rasanya. Begitu juga musim hujan,” kata Merawati yang mulai melaut sendirian sejak tahun 1997.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, ada peningkatan cuaca ekstrem dan perubahan tren gelombang laut di perairan NTT termasuk di wilayah Kabupaten Sikka karena perubahan iklim. Ryan Sudrajat, Prakirawan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Madya Klimatologi II Kupang, mengatakan suhu di perairan Indonesia meningkat 0,19 derajat Celcius setiap 10 tahun. “Hal ini membuat kawasan maritim cenderung rentan terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem,” katanya.

BMKG memetakan suhu permukaan laut dengan memanfaatkan berbagai sumber data observasi laut. Data tersebut mencakup dinamika atmosfer seperti pertumbuhan awan, pergerakan angin dan kelembaban yang dianalisis melalui citra satelit. Lembaga ini  berkolaborasi dalam pemantauan kondisi laut secara real-time maupun berdasarkan data historis perairan Indonesia termasuk wilayah NTT.

Kenaikan suhu air laut memunculkan fenomena marine heatwave (MHW). Fenomena ini  memicu pemutihan karang, migrasi ikan dan kematian massal biota laut. “Kenaikan suhu ini menyebabkan populasi ikan di titik-titik tertentu menurun, sehingga wajar yang disampaikan nelayan tradisional mereka mengeluhkan saat ini mencari ikan semakin sulit atau semakin jauh dari pantai,” terang Ryan.

Selain suhu laut meningkat, BMKG juga melihat ada perubahan tren tinggi gelombang laut dalam 10 hingga 15 tahun terakhir di wilayah NTT. Sebelumnya, berdasarkan pantauan BMKG, tinggi gelombang laut relatif stabil pada kisaran 1,25 meter hingga 2,5 meter. Menurut Ryan, peningkatan tinggi gelombang laut bukan hanya terjadi pada musim barat melainkan juga pada pada musim timur.

“Hal ini dipengaruhi oleh kondisi musim barat yang bertepatan dengan musim hujan. Tercatat tinggi gelombang mencapai empat meter hingga lebih di beberapa perairan Indonesia, termasuk Samudra Hindia di selatan NTT, yang dipicu oleh angin kencang di wilayah tersebut,” kata Ryan kepada NTT-Post.com, Senin, 9 Februari 2026.

Ryan mengungkapkan, pada periode Oktober hingga April, BMKG rutin mendeteksi bibit siklon tropis yang berpotensi berkembang menjadi siklon tropis di sekitar wilayah NTT. Sebelum kejadian, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini secara bertahap, mulai dari skala mingguan, harian, hingga per jam.

“Masyarakat, khususnya nelayan, diharapkan selalu waspada terhadap potensi dampak siklon tropis tersebut. Hujan lebat yang terjadi pada Januari lalu, misalnya, masih dipicu oleh bibit siklon tropis dan belum berkembang menjadi siklon tropis sepenuhnya, namun tetap berdampak signifikan terhadap kondisi cuaca dan laut,” ungkap Ryan.

Risiko dan Tekanan Hidup Meningkat

FotoJet 3
Rumah nelayan di Ndete, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, yang sedang terendam banjir rob. (Foto: Mia Margaretha Holo/NTT Post)

Bagi nelayan seperti Merawati, membaca gejala alam bukan hanya soal keselamatan saat melaut melainkan juga hasil yang mereka dapatkan. Dia mengeluh, hasil tangkapan sudah tidak sebanyak dulu lagi.

Sekitar tiga dekade lalu, ia dan nelayan lainnya biasa mencari ikan di dekat pantai tanpa harus mendayung jauh ke tengah laut, dan hasilnya pun mencukupi. Namun mereka sekarang harus melaut lebih jauh. “Kalau tidak, kami tidak dapat apa-apa,” katanya.

Seperti keluhan para nelayan lainnya, suhu air laut meningkat, bahkan pada siang hari uapnya terasa sekali menampar muka. Hal itu membuat Merawati dan beberapa nelayan perempuan lainnya jarang melaut di siang hari. “Saya yang biasanya melaut siang hari sekarang harus lihat dulu, kalau terlalu panas suhunya, saya tidak turun. Istilahnya menggigit kulitlah panasnya,” ujarnya sembari tertawa kecil.

Merawati tak paham mengapa perubahan itu terjadi. Meskipun minim pengetahuan, ia tetap beradaptasi dengan situasi tersebut. Namun hal itu juga yang meyakinkan dirinya dan nelayan tradisional lainnya bahwa perubahan suhu lautlah yang menyebabkan ikan sulit didapatkan, “Apalagi lautnya sekarang tidak jernih macam dulu lagi. Air laut keruh terkadang kotor bercampur sampah, ikan enggan naik,” terang Merawati.

Hal serupa diutarakan rekannya, Hamjanur, yang kerap “pulang dengan tangan kosong” meski semalaman memancing. “Kadang delapan ekor atau tiga ekor saja yang kami dapat. Paling banyak itu 15 ekor tetapi tidak setiap hari kami dapat,” kata lansia berusia 70 tahun itu.

Padahal menurutnya, mereka sudah memancing sejauh 400 hingga 500 meter dari pantai. Berbeda dengan dulu, ikan-ikan sangat melimpah meskipun memancing hanya beberapa meter dari pantai. “Ikan batu, kerapu, itu banyak sekali yang kita dapat. Ikan-ikan itu kita jual bisa sampai ratusan ribu. Sekarang Rp30 ribu saja tidak sampai.”

Seorang nelayan laki-laki bernama Deloong yang berusia 45 tahun membenarkan pernyataan Merawati dan Hamjanur. Cuaca yang kerap berubah-ubah berpengaruh terhadap hasil tangkapan meski telah melaut menggunakan perahu motor dan mencari lebih jauh ke tengah. Hal itu membuatnya kadang frustasi dan cemas dengan keselamatan dirinya jika cuaca buruk tiba-tiba datang. “Kalau mencari dua hingga tiga ratus meter ke laut jangan harap dapat banyak. Pulang bisa-bisa tangan kosong,” ujar Deloong.

Meski demikian, ia mulai paham hal tersebut terjadi karena perubahan iklim. Nelayan yang sudah puluhan tahun melaut ini merasa ada perubahan yang sedang terjadi di laut. Menurutnya, kondisi laut tidak lagi sama seperti dulu.

Risiko Melaut Makin Tinggi

FotoJet 6
Dermaga Ndete, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, di tengah kondisi cuaca yang sedang tidak bersahabat. (Foto: Mia Margaretha Holo/NTT Post)

Di Ndete, Reroroja, bukan hanya Merawati dan Hamjanur yang berani menantang laut. Tercatat ada lima perempuan yang senasib. Ada Asri Jani (62), Narwise Tani (62), Sunarti (42), Nawari (42) dan Marsiana (52).

Tujuh nelayan perempuan ini bukan hanya berperan menjual hasil tangkapan di darat melainkan juga terjun langsung ke laut. Di tengah cuaca yang tidak menentu mereka harus berhadapan dengan berbagai situasi di laut seperti terik matahari, angin kencang, hujan deras dan gelombang tinggi, mereka tetap menjadi sosok yang seringkali luput dari perhatian kebijakan.

“Sebenarnya kegiatan melaut kita di siang hari itu dikurangi karena pernah punya riwayat hipertensi. Apalagi kalau dilihat dari usia kan kita seharusnya beraktivitas yang ringan saja,” ungkap Hamjanur.

Peralatan melaut yang digunakan pun jauh dari kata memadai. Mereka menggunakan sampan kayu tanpa mesin serta memiliki alat tangkap sederhana seperti pancing tali dan kail. Jika tiba-tiba terjadi badai di lautan, mereka hanya mengandalkan jangkar dan pelampung seadanya. “Sampan yang kami gunakan itu seadanya saja. Ada nelayan perempuan lainnya yang meminjam milik keluarganya nanti dibayar pakai ikan, ada juga yang sewa,” terangnya.

Marsiana mengatakan, laut bukan hanya sebagai ladang mereka mencari kehidupan tetapi sebagai tempat pelarian dari jerat kemiskinan. Ibu beranak dua ini mengaku pekerjaan ini berisiko tinggi.

Sejak suaminya meninggal, Marsiana memiliki peran ganda. Ia menggantikan posisi suaminya sebagai kepala keluarga sekaligus sebagai ibu rumah tangga. Ia terpaksa harus melaut. “Tak ada yang membantu saya kecuali diri saya sendiri. Suami meninggal tidak mewarisi saya apa-apa. Ada perahu tetapi sudah rusak. Makanya saya harus pinjam,” ungkap perempuan yang sudah tujuh tahun melaut ini.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung