Baginya, tangan dingin seorang ibu jauh lebih tepercaya ketimbang paket katering yang datang dari jauh.
Ia yakin, masakan rumah bukan hanya soal rasa, tapi soal jaminan keselamatan dan transparansi anggaran agar tidak disunat di tengah jalan.
Lebih dari sekadar urusan perut, surat Myscha menjadi cermin retak infrastruktur pendidikan di NTT. Ia menceritakan bagaimana SDI Compang Ngeles harus bertahan dengan atap seng bekas dan dinding yang mulai rapuh dimakan usia.
Sejak berdiri tahun 1999, sekolah ini seolah terlupakan oleh derap pembangunan.
Dalam poin-poin permintaannya, Myscha menekankan tiga hal yakni rehabilitasi gedung, sarana belajar, dan kesejahteraan guru.
“Saya minta pak Presiden perbaiki ruang kelas yang bocor agar kami tak perlu cemas saat hujan turun. Juga kami minta tas, buku, dan seragam yang layak bagi kami anak pelosok,” tulisnya.
“Saya percaya, kalau guru sejahtera dan sekolah bagus, kami pasti jadi pintar Pak,” tambahnya.
Terpisah, Kepala SDI Compang Ngeles, Viktor Nasus, hanya bisa mengangguk pasrah saat dikonfirmasi mengenai aspirasi siswinya tersebut.
Ia membenarkan bahwa kondisi sekolah memang memprihatinkan. Usulan revitalisasi sudah berkali-kali dilayangkan, namun hingga April 2026 ini, jawaban yang dinanti tak kunjung datang.
“Kami sangat membutuhkan rehabilitasi gedung dan bantuan meja dan kursi. Kami sudah mengusulkan bantuan revitalisasi namun hingga kini belum terealisasi,” tuturnya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












