Ratusan warga mengeluhkan bantuan yang tak kunjung tiba, sementara hampir setiap hari wilayah mereka diguyur hujan lebat.
NTTPost.com, MAUMERE – Masyarakat lima desa di wilayah Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengalami dampak erupsi gunung berapi Lewotobi Laki-laki hingga kini masih menanti janji pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait bantuan atap rumah berupa seng. Bantuan tersebut seharusnya sudah terealisasi sebelum musim penghujan tiba. Kelima desa dimaksud adalah Desa Hikong, Udek Duen, Kringa, Timutawa dan Ojang.
Warga mulai mengeluh rumah mereka kerap terendam air hujan lantaran atap seng yang karat dan bocor akibat erupsi berkepanjangan selama dua tahun terakhir.
Theresia Praxedis, salah satu warga Desa Kringa merasakan dampak tersebut. Seringkali semalaman ia tidak tidur karena seluruh kamar di rumahnya diguyur hujan bahkan membasahi tempat tidur, meja makan, dan dapur.
Hal serupa terjadi di rumah Ati Liwu, salah satu warga Desa Hikong. Ia mengirim sebuah video yang memperlihatkan ayahnya sedang menyapu air di dalam rumahnya akibat guyuran hujan deras yang melanda wilayah tersebut hampir seharian penuh pada Jumat, 14 November 2025.
Theresia mengatakan, kini ia dan warga lain mulai kewalahan karena setiap kali hujan turun, air hujan selalu menggenangi lantai kamar di rumahnya. Ia tak punya penahan lain kecuali terpal lusuh yang sebenarnya sudah dua kali ia ganti, namun lagi-lagi koyak oleh abu vulkanik yang panas.
“Siang hari kita masih bisa cari solusi kalau hujan datang, tetapi kalau malam hari itu kadang-kadang kami duduk sepanjang malam tunggu sampai hujan reda karena air hujan masuk tembus ke kamar, meja makan dan di dapur. Tidak ada ruang untuk kami berlindung,” ujar Praxedis kepada NTTPost.com, Sabtu, 15 November 2025.
“Saya sudah beli terpal dua kali tetapi tetap tidak bisa tahan lama. Sekarang mau beli sudah tidak ada uang karena kami mengalami gagal panen sudah dua tahun sejak gunung Lewotobi meletus,” imbuh perempuan berusia 46 tahun itu.
Praxedis bilang, tanaman seperti kemiri, mete kakao dan kelapa tidak ada hasil sama sekali sehingga mimpinya untuk membeli seng tidak pernah tercapai. Harapan satu-satunya adalah mendapat bantuan yang pernah ditawarkan oleh BNPB berupa seng.
“Petugas dan aparat desa yang datang data sendiri di rumah. Mereka bilang bantuan dari BNPB itu atap seng untuk satu rumah, mulai dari rumah besar, dapur hingga kamar mandi. Total keseluruhan untuk rumah saya itu sekitar 100 lembar,” katanya.
Kendati demikian, hingga kini bantuan tersebut belum juga tiba. Terakhir ia mendengar informasi dari Pemerintah Desa Kringa, bantuan tersebut akan diberikan dengan jumlah 40 lembar saja, itu pun hanya menyasar 40 kepala keluarga.
“Kami butuh kepastian pemerintah. Entah itu 40 lembar atau berapapun, tolong secepatnya karena kami sangat membutuhkan. Sudah dua tahun kami menderita, musim panas kami hidup dengan udara yang sangat kotor, kalau musim hujan rumah kami bocor dan air hujan masuk menggenangi lantai seluruh kamar,” keluh Praxedis.
Spesifikasi Seng dan Keterdesakan Kondisi
Meskipun belum menerima bantuan seng dari BNPB, warga terdampak erupsi berharap ukuran ketebalan seng “harus tahan dengan risiko abu vulkanik” melihat kondisi letusan gunung Lewotobi Laki-laki yang masif terjadi.
Polemik di tengah masyarakat mengenai ketebalan seng 0,20 milimeter menurut mereka “tidak cocok untuk wilayah terdampak”. Hal ini membuat warga enggan untuk menerima tawaran bantuan tersebut, namun ada yang terpaksa harus menerima karena didesak keadaan.
Ati Liwu mengatakan dari 69 calon penerima manfaat di desanya, ada yang menyetujui agar bantuan tersebut segera direalisasikan meskipun ketebalan seng hanya 0,20, namun ada juga masyarakat yang enggan menerima karena melihat tingkat risiko sebaran abu vulkanik yang sering melanda Hikong.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












