“Meriam tua yang di depan sana, masih kita kenal hingga kini, bukanlah lambang kekerasan, tetapi penanda awal kehadiran Injil yang menjaga, menyertai, dan mengakar dalam kehidupan masyarakat Sikka,” sebutnya.
Uskup Maumere menggambarkan Gereja Sikka sebagai “Ibu yang mendidik iman”. Baginya, gereja ini adalah ruang perjumpaan unik antara iman dan budaya, di mana Injil tidak berdiri di atas masyarakat, melainkan tumbuh subur di dalamnya.
“Gereja ini menjadi tempat anak-anak belajar berdoa dan keluarga dipersatukan. Dentang loncengnya telah setia mengiringi suka dan duka umat selama 125 tahun perjalanan iman yang penuh harapan,” tuturnya.
Mengacu pada bacaan Kitab Suci, Mgr. Ewaldus memberikan tantangan konkret bagi umat Paroki Sikka di usia yang baru ini.
Ia menegaskan bahwa ibadah sejati harus menjelma dalam sikap hidup sehari-hari, sesuai pesan Nabi Yesaya.
“Kemuliaan Allah tidak terutama terpancar dari keindahan arsitektur bangunan ini, melainkan dari wajah umat yang saling peduli, terbuka, dan solider. Jangan menyembunyikan diri terhadap saudaramu yang lapar dan lemah,” tegasnya.
Uskup menutup khotbahnya dengan ajakan untuk menjadikan peringatan 125 tahun ini sebagai momen refleksi:
“Kamu adalah terang dunia. Terang itu bersinar ketika umat hidup jujur dalam pekerjaan, setia dalam keluarga, dan berani memperjuangkan kebaikan bersama. Semoga Gereja Tua Sikka tetap menjadi rumah iman yang hidup.” tutupnya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












