Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Festival dan Seminar Budaya Takanab di TTU Genjot Generasi Muda Cintai Budaya Lokal

“Tradisi lisan seperti Takanab harus masuk dalam ruang pendidikan sebagai bagian hidup dari muatan lokal. Selain itu, budaya perlu direkam, ditulis, dan disimpan agar tidak hilang ditelan waktu,” ujarnya.

Avatar photo
Reporter : Ramos Suni Editor: Nivan Gomez
IMG 20260522 235901
Festival dan Seminar Budaya Takanab sukses digelar di Aula Gereja Katolik St. Antonius Padua Sasi Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Jumat (22/5/2026). | (Foto: Ramos Suni)

NTT-Post.com, TTU – Di tengah derasnya arus modernisasi dan banjir informasi digital, suara tradisi dari Tanah Timor kembali digaungkan.

Melalui Program Dana Indonesiana, Festival dan Seminar Budaya Takanab sukses digelar di Aula Gereja Katolik St. Antonius Padua Sasi Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Jumat (22/5/2026).

Kegiatan budaya ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, di antaranya tokoh adat sekaligus Usif Naktimun Swapraja Miomaffo, Gabriel Olin, serta akademisi Drs. Mathias Subani.

Kegiatan yang dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTU ini juga disambut antusias oleh ratusan peserta yang terdiri dari para dosen, mahasiswa, guru, hingga pelajar tingkat SD dan SMP di Kota Kefamenanu.

IMG 20260522 WA0030
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTU, Beato Yosef Frent Omenu, membuka kegiatan festival dan seminar budaya. | (Foto: Ramos Suni)

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTU, Beato Yosef Frent Omenu, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga dan merawat tradisi lisan Dawan sebagai warisan budaya yang sarat nilai historis, pendidikan, dan identitas masyarakat Timor.

Menurut Yosef, Takanab bukan sekadar tuturan lisan atau hiburan masa lalu, melainkan kristalisasi filsafat hidup, hukum adat, sejarah, dan identitas masyarakat Dawan Atoen Meto yang diwariskan turun-temurun

“Di dalam setiap bait Takanab terkandung nilai-nilai moral yang mendalam. Ada ajaran tentang penghormatan kepada Allah, hubungan antarsesama manusia, serta ketaatan kepada Sang Pencipta atau Uis Neno dan para leluhur,” jelas Yosef.

Ia juga menyoroti tantangan besar di era digitalisasi saat ini, di mana tradisi lisan seperti Takanab mulai tergerus dan berisiko dilupakan generasi muda.

Karena itu, pihaknya menyambut baik pelaksanaan festival budaya ini sebagai langkah strategis dalam perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com

+ Gabung