Baca Juga: Menhan RI Tinjau Kesiapan Pertahanan Perbatasan RI–Timor Leste di TTU
“Sementara ini saya bersama kepala desa masih berpikir, kira-kira solusinya seperti apa. Harapannya, kalau bisa jembatan itu tahun ini juga kita bangun, sehingga bisa kembali menghubungkan dua dusun ini agar anak-anak sekolah tidak kesulitan dalam transportasi,” jelas Yohanes.
Ia juga menuturkan, anak-anak sekolah yang masih berusia dini harus diantar dan dijemput orang tua setiap hari. Namun, kondisi deker yang rusak menjadi kendala utama dalam aktivitas tersebut.
“Jujur saja, anak-anak ini masih umur kecil, jadi pagi-pagi orang tua antar dan pulang sekolah orang tua jemput. Kesulitannya ada di deker itu,” tambahnya.
Baca Juga: Polres TTU Bongkar Sindikat Uang Palsu di Kefamenanu, Tersangka Gunakan Printer untuk Cetak Rupiah
Saat hujan deras dan banjir, anak-anak terpaksa mengambil jalur alternatif yang jauh dengan memutar melalui wilayah Oelami hingga ke gereja dekat Dalehi, sebelum kembali menuju sekolah.
“Kalau hujan besar dan banjir, mereka harus lewat jalur memutar sekitar 4 kilometer. Itu sangat jauh,” ungkapnya.
Tak hanya siswa, para petani juga turut merasakan dampak kerusakan deker tersebut. Sebagian besar kebun warga berada di sekitar area sekolah, sehingga akses menuju kebun menjadi terhambat.
“Petani kami juga berkebun di dekat SD sana. Setiap hari masyarakat dari dua dusun selalu lalu lalang, tapi karena dekernya putus, mau tidak mau motor harus ditinggal,” pungkas Yohanes.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












