Ia juga menyoroti pola pencarian Basarnas yang dianggap tidak memiliki urgensi. “Satu hari turun dua kali, pagi dan sore. Begitu jam makan siang, mereka pulang. Ini nyawa manusia, bukan binatang!” tambahnya.
Pencarian Swadaya: “Pemerintah Tidak Ada di Sini”
Di tengah minimnya bantuan alat dari pemerintah, para nelayan dari Paga dan Ndori Kabupaten Ende mengambil inisiatif mandiri.
Sebanyak kurang lebih tujuh armada bodi (perahu nelayan) digerakkan secara swadaya.Ironisnya, operasional pencarian ini dibiayai melalui donasi warga.
“Kami keluar masuk rumah, berdiri di pinggir jalan untuk cari sumbangan bahan bakar. Jadi murni ini swadaya. Diksi yang paling tepat: pemerintah tidak berguna,” tegas Jo.
Jo Siwaseko berharap saat ini Pemerintah harus hadir dengan membawa armada yang lebih besar dengan fasilitas lebih lengkap untuk mempercepat pencarian dua nelayan tersebut.
Dia juga mendesak pemerintah untuk menghadirkan helikopter dari Basarnas, TNI-Polri untuk membantu pencarian.
“Saat ini kami mendesak hak kami agar Pemerintah datang membawa armada besar dengan fasilitas lengkap. Kami butuh akai nyata dari pemerintah,” tutupnya.
Pantauan di lokasi, hingga pukul 15.00 perahu karet milik Basarnas Maumere telah terparkir di samping rumah warga dan tim gabungan Basarnas Maumere telah menghentikan pencarian hari keenam dan akan dilanjutkan esok hari.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT-post.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












